Lancang Bicara

Dalam bahasa Indonesia lancang bicara memiliki konotasi yang negatif, berbeda dengan lancar bicara. Jika lancar bicara bermakna positif seperti anak kecil yang pandai bicara, orang asing yang menguasai bahasa target, atau orang yang memiliki ketrampilan bicara (orator); sebaliknya, lancang bicara bermakna ada penentangan terhadap lawan bicara.

Seseorang akan dikatakan ”lancang bicara” jika dianggap berani atau menentang terhadap lawan bicara. Dalam komunikasi, seseorang dikatakan lancang jika dia mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya dikatakan, atau bahkan termasuk berani mengeluarkan kata-kata atau bicara. Standar kelancangan bersifat arbriter tetapi konvensional. Seseorang yang lancang bicara seringkali dianggap melakukan perlawanan. Di sini ada operasi kekuasaan.

Seorang anak dikatakan lancang terhadap orang tuanya jika dia mengucapkan kata-kata yang menurut norma keluarga/masyarakat setempat dianggap tidak tepat. Sebagai contoh, jika dia menyebut nama ortunya tanpa kata-kata honorifik seperti Pak atau Bu alias langsung menyebut namanya, anak tersebut bisa dikategorikan lancang pada orang tuanya.

Orang yang menyebut lawan bicaranya dengan kata, ”Hei, kau bangsat!” seperti yang pernah diucapkan salah seorang anggota DPR dalam rapat, juga bisa dikatakan lancang bicara. Orang menghina presiden juga tergolong orang lancang bicara.

Seringkali lancang bicara hanya sebatas ranah sosial, jarang yang menjadi kasus ranah hukum. Lancang bicara merupakan bentuk perlawanan dari sang subordinat kepada sang dominan secara sosial. Seringkali reaksi sang dominan akan kembali menekan dengan melontarkan ancaman, kata-kata ancaram atau gertakan. Meski demikian, tidak sedikit yang mereaksi dengan tindakan atau perbuatan.

Kelancangan bicara tidak selalu ditunjukkan dengan intonasi bicara yang meninggi dan suara keras. Orang-orang Jawa bisa mengekspresikan kelancangan bicara dengan intonasi yang datar dan suara pelan. Akan tetapi, isinya menunjukkan adanya penolakan, pengingkaran, atau penertawaan yang merendahkan lawan bicara atau menjatuhkan lawan bicara.

Kelancangan bicara adalah bentuk resistensi terhadap kelompok dominan. Inilah bahasa perlawanan terhadap kelompok yang memiliki kekuasaan. Kelancangan bicara bagi sang subordinat seringkali ditanggapi balik dengan kata-kata represif. Inilah yang oleh Bourdieu dinamakan dengan kekerasan simbolik.

Anda bisa saja lancar bicara tapi jangan coba-coba untuk lancang bicara jika Anda tidak ingin diperlakukan sebagai musuh dalam sebuah pembicaraan atau sebagai musuh dalam keseharian. Dalam peribahasa Melayu dikatakan, ”Mulutmu adalah harimaumu!” yang berarti bahwa kata-kata yang kau keluarkan sewaktu-waktu bisa mencelakakan (menerkam) dirimu. Maka, hati-hatilah bicara.

Catatan: Di Riau ada lagu yang berjudul ”Lancang Kuning”. Kira-kira apa arti kata lancang dalam lirik lagu tersebut? Mungkin Wisma Bahasa tahu.

Tags: bahasa indonesia, lancang bicara, lancang kuning

Posted in Pojok WB

One Response to “Lancang Bicara”


yayabubu July 4th, 2013 at 21:44

lagu Lancang Kuning itu menceritakan sepak terjang kapal zaman dulu yg namanya “Lancang Kuning”, jadi ya di lagu itu kata “Lancang” nggak punya arti khusus, cuma menyebut nama kapal, begini liriknya :

Lancang kuning ~
lancang kuning berlayar malam, Hey ! berlayar malam ~
haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam ~



Leave a Reply