Budaya Komunikasi dalam Masyarakat Vietnam

Vietnam adalah bangsa yang berkembang dengan sejarahnya yang panjang, maupun dengan keadaan ekonomi pertaniannya, dan ciri yang umum di bidang kebudayaannya, kesadarannya, psikologinya dan peradaban yang unik serta kaya, pemandangan yang spektakuler, orang yang berbudaya tinggi dan ramah.  Hal ini merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang pada saat kaum keluarga dan suku bersatu untuk mendirikan bangsa ini.

Kehidupan orang Vietnam berdasarkan pertanian yang tergantung satu sama lain. Masyarakat Vietnam saling menghormati untuk menjaga hubungan yang bagus dalam masyarakat. Hal ini akhirnya membentuk sebuah budaya komunikasi.

Untuk orang Vietnam, budaya adalah sebuah sistem material (jasmani) dan spiritual (rohani) nilai-nilai yang dibuat dan dikumpulkan lewat proses kerja di dalam kehidupan. Budaya mempunyai dua karakteristik fundamental (dasar), yaitu karakter sistematis dan karakter nilai.

Pertama, karakter sistematis membantu kita menemukan hubungan yang sangat dekat di antara peristiwa dan aktivitas di dalam sebuah budaya. Oleh karena karakter sistematis, budaya sebagai entitas mencakup semua aktivitas di dalam masyarakat untuk memenuhi fungsi organisasi masyarakat. Jadi, budaya dipertimbangkan sebagai dasar masyarakat.

Kedua, karakter nilai mempunyai  dua nilai yaitu material (untuk memenuhi permintaan material) dan spiritual (untuk memenuhi permintaan spiritual).  Nilai ini dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu nilai yang abadi (long lasting value) dan nilai yang cepat pudar (non-lasting value).

Budaya bisa digambarkan seperti sebuah kabel yang menghubungkan orang satu sama lain. Hal ini dilakukan lewat bahasa. Bahasa adalah salah satu sarana komunikasi dan budaya adalah isi bahasa (menyampaikan nilai – nilai material dan spiritual kepada orang – orang). Seperti yang tersebut di atas, orang Vietnam sangat menghormati hubungan antara orang – orang di dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan orang Vietnam sangat menghormati komunikasi, dan oleh karena itu mereka menyukai komunkasi. Untuk menjaga silaturahmi, orang Vietnam punya kebiasaan mengunjungi satu sama lain. Ini dapat dilihat pada masing – masing masyarakat di bangsa ini. Walaupun setiap hari mereka saling bertemu tetapi kalau mereka mempunyai waktu luang, mereka selalu ingin bertemu dan saling mengunjungi. Kunjungan mungkin tidak berarti untuk bekerja (kepentingan bisnis) tetapi ini hanya untuk menunjukkan perasaan kedekatan untuk mempererat hubungan. Bagi objek komunikasi, orang Vietnam mempunyai keramah – tamahan dalam komunikasi. Ini juga bisa dilihat pada bagaimana cara mereka menerima tamu. Misalnya, ketika mereka dikunjungi, walaupun mereka miskin, mereka akan menjamu tamu dengan sebaik mungkin. Sikap ini kuat sekali terutama di desa- desa. Meskipun suka berkomunikasi, orang Vietnam sangat malu untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Biasanya, ketika pertama kali bertemu dengan orang lain yang belum dikenal, orang Vietnam ragu – ragu untuk memulai komunikasi, bahkan takut! Hal ini akan sedikit teratasi kalau komunikasi sudah dimulai, atau mereka sudah merasa dekat dengan orang itu.

Budaya petani  menyebabkan perlakuan orang Vietnam terhadap orang lain sangat dipengaruhi oleh perasaan. Ketika orang saling mencintai atau menyukai, mereka cenderung memaafkan kesalahan orang lain, meskipun kesalahan itu sangat besar. Perasaan lebih bernilai daripada  rasionalitas (menghargai perasaan jauh lebih penting daripada yang lain). Siapa pun yang membantu mereka akan dipanggil “guru”. Panggilan ini mengingatkan mereka pada bantuan dari orang lain. Ada banyak “guru” di dalam kehidupan mereka, misalnya dokter, guru di sekolah, dukun, pengacara…

Dengan obyek komunikasi, orang Vietnam mempunyai kebiasaan suka mencari informasi dari orang lain untuk menilai orang lain.  Dalam komunikasi,  pertanyaan tentang umur, kelahiran, pendidikan, pekerjaan, status sosial, keluarga (orang tua, sanak keluarga, status perkawinan, berapa jumlah anak …) sangat sering ditanyakan. Hal tersebut kelihatannya memperlihatkan bahwa orang Vietnam terlalu ingin tahu (curious), bahkan aneh untuk orang asing. Tetapi, karakteristik ini adalah hasil yang lahir dari  semangat masyarakat. Di dalam masyarakat, orang Vietnam bertanggung jawab merawat orang lain. Untuk dapat bersikap kepada orang lain sebaik – baiknya, mereka ingin tahu dan mengerti keadaan orang lain. Orang Vietnam memilih panggilan yang cocok (Mis: paman, bibi, bapak, mas, mbak, kakak, ibu…) tergantung pada pengetahuan tentang orang tersebut.

Semangat masyarakat menyebabkan orang Vietnam sangat menghargai kehormatan (kehormatan lebih baik daripada pakaian yang bagus!) Gejala ini bisa dilihat di mana – mana di Vietnam. Oleh karena itu, orang Vietnam selalu berusaha meningkatkan status sosial mereka sendiri: makin “tinggi” makin “bergengsi”.

Pada umumnya, orang Vietnam tidak bertanya atau berbicara langsung tentang hal yang ingin mereka ketahui, tetapi berbicara tentang hal lain sebelumnya. Takut (afraid) menyakiti hati orang lain adalah salah satu alasannya. Pembicaraan biasanya dimulai dengan basa – basi. Teh, rokok atau sirih biasanya dikonsumsi sebelum pembicaraan di desa-desa, bahkan di dalam pertemuan resmi (Kadang-kadang ini dipikirkan sebagai pemanasan sebelum acara pokok.  Dengan cara komunikasi ini, orang Vietnam mempunyai kebiasaan berhati – hati ketika berbicara, sehingga tidak selalu bisa memutuskan dengan cepat. Biasanya, untuk menghindari pembuatan keputusan mereka hanya tersenyum. Senyuman adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam berkomunikasi (Ini mungkin gejala yang sama dan yang populer di masyarakat Asia).

Di dalam masyarakat Vietnam, cara untuk menyapa sangat bermacam – macam. Ini dapat dilihat dengan jelas di komunikasi informal. Di Eropa nama panggilan untuk keluarga, hanya dipakai dalam keluarga. Misalnya: kakak, ibu, bibi, paman, dll. Tetapi di Vietnam hal itu juga dipakai untuk menyebut orang lain (bukan anggota keluarga). Ada tiga alasan mereka melakukan ini:

–      Karena mereka ingin orang lain dekat dengan mereka (seperti anggota keluarga)

–      Ingin membuat orang yang disapa menjadi anggota masyarakat setempat.

–      Untuk merendahkan dirinya di depan orang lain (seumur, sestatus sosial …tapi menyebut diri sendiri lebih rendah dari pada lawan bicara, dan orang itu akan melakukan sebaliknya).

Sopan santun berbicara dalam situasi formal sangat bermacam – macam juga. Dalam beberapa kasus tidak ada ucapan “ terima kasih” atau “ maaf”, tetapi hal ini diucapkan berdasarkan situasi tertentu. Masing – masing situasi, ada cara bagaimana mengucapkannya berdasarkan perasaan mereka. Milsanya, ketika anak kecil diberi hadiah dari orang tua, selain langsung mengucapkan “terima kasih”, dia bisa berkata “ Bapak (atau paman), Anda baik sekali kepada saya!”. Ekspresi tersebut berarti “ menerima hadiah” itu.

Interaksi dan komunikasi di masyarakat Vietnam sangat berdasarkan budaya dan kebiasaan. Mungkin, kehidupan masyarakat dan ekonomi pertanian membuat orang – orang saling tergantung. Dengan demikian, orang harus saling menghormati dan saling membantu. Ini bisa dilihat di negara – negara yang menganut sistem agraris, khususnya di Asia. Akan tetapi, hal ini juga menjadi halangan dalam menjalin hubungan dengan masyarakat lain karena masing-masing masyarakat mempunyai kebiasaan yang berbeda. Orang – orang berusaha mengembangkan masyarakat mereka sendiri supaya lebih baik daripada masyarakat lainnya. Semua ini merupakan konsekuensi dari semangat masyarakat pertanian.

(Penulis: Van Ba Son – Diplomat Vietnam – Belajar di Wisma Bahasa th. 2005. Tulisan ini sudah pernah dipresentasikan di Wisma Bahasa pada tahun 2005, dalam rangka ujian akhir belajar bahaa Indonesia)

Tags: budaya vietnam, masyarakat vietnam, orang vietnam

Posted in Students Write



Leave a Reply