Wisma Bahasa Bulletin

You are in : Home > Bulletin

Google
Buletin Wisma Bahasa
Edition: Juli 2007
Isi / Contents
Penulis
Karangan Murid
1 Jogjakarta
2 Jesus Pengantara

Kim Jae-Hun
Level: Beginner

Peter van Bruggen
Level: Advanced

Kronik Indonesia Redaksi
Tata Bahasa - Pemakaian Afiks me-i (bagian 1) Redaksi
Realia Redaksi
Percik Redaksi
Masalah Kebahasaan Redaksi
Mozaik Wisma Bahasa Redaksi
Selamat Kawan !! Redaksi
News  
Alumni bulan Juni 2007  
Penanggung jawab: Direktur

Edisi 7 Th. I (Mei/2007) - Edisi 6 Th. I (Mar/2007) - Edisi 5 Th. I (Feb/2007) - Edisi 4 Th. I (Jan/2007) - more..







 

 



 

 

Para Diplomat ASEAN Plus Three mengikuti program
“3rd Promotion of Language program for ASEAN Plus Three”

Sejak tahun 2005 DEPLU RI (Departemen Luar Negeri Republik Indonesia) telah menyelenggarakan program pelatihan bahasa Indonesia bagi para diplomat negara-negara ASEAN plus three (negara-negara ASEAN plus Cina, Korea dan Jepang) atau biasa disebut “Promotion of Language Program for ASEAN Plus Three Cooperation”. Program ini diharapkan akan memperdalam rasa pengertian antarnegara sekaligus media yang efektif untuk mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia ke negara-negara tetangga tersebut.

Program ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005 program ini diadakan di Yogyakarta. DEPLU RI mempercayakan pelaksanaannya kepada Wisma Bahasa, sebuah lembaga pengajaran bahasa Indonesia untuk pembelajar asing yang sudah berpengalaman selama 25 tahun. Sukses dengan pelaksanaan pada tahun 2005 di Wisma Bahasa, DEPLU melanjutkan program tersebut pada tahun 2006 ditempat yang sama. Persiapan telah dimulai ketika bencana gempa memporak-porandakan Yogya pada akhir Mei 2006. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, tempat pelaksanaan dipindahkan ke Bandung.

Dua tahun kemudian yaitu pada tanggal 28 Juni 2007 program belajar bahasa Indonesia untuk para diplomat negara-negara ASEAN plus three kembali dilaksanakan di Yogya. Keberhasilan pelaksanaan pada tahun 2005 yang sangat memuaskan semua pihak mendorong DEPLU RI untuk kembali menunjuk Wisma Bahasa sebagai pelaksana program ini. 16 Diplomat dari 10 negara akan berkumpul dan mempelajari bahasa Indonesia serta mengenal budaya Indonesia selama kurang lebih tiga bulan di Wisma Bahasa Yogyakarta.

Selama tiga bulan pelaksanaan program, peserta akan belajar bahasa Indonesia di dalam dan di luar kelas. Mereka juga akan diperkenalkan pada budaya Indonesia dan kehidupan masyarakat lokal. Peserta akan diajak menyaksikan Candi Borobudur, Candi Prambanan, keagungan Kraton Kasultanan Yogya, pertunjukan tarian Ramayana, dan merasakan kehidupan di desa dan masih banyak lagi.

Mereka juga akan mendapatkan kesempatan untuk beraudiensi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X serta mengikuti upacara hari kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus. Kunjungan ke pasar tradisional dan praktik bicara dengan masyarakat lokal juga merupakan kegiatan yang juga tak kalah penting bagi para peserta program ini dalam rangka memahami kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pada akhir program, semua peserta akan mempresentasikan hasil pembelajaran bahasa dan pengenalan budaya pada tanggal 21 September sekaligus diadakan upacara penutupan oleh DEPLU di Yogyakarta. Pada akhirnya pemahaman mereka pada budaya dan bahasa Indonesialah yang menjadi inti dari pelaksanaan program ini. Harapannya kelak ketika peserta menjadi pemimpin, pemahaman mereka akan Indonsia akan membantu meningkatkan saling pengertian dan kerjasama di wilayah ASEAN seperti cita-cita Komunitas ASEAN (ASEAN Community)

Seperti kata pepatah ”tak kenal maka tak sayang”


Beberapa anggota Diplomat ASEAN yang sedang menghadiri pembukaan Festival Film ASEAN di Gedung Societet Jogjakarta

[ kembali ke Daftar Isi ]

 

 


 

 

 




Karangan Murid

Kota Jogjakarta

Sejak masa dulu Jogja adalah kota kebudayaan, kesenian, dan pendidikan. Di sana ada banyak warisan kebudayaan. Katanya dahulu di sana ada seratus kampus. Lagipula jogja adalah kerajaan sultan.

Dulu Jogja adalah sebuah ibukota di Indonesia. Di sana Masih tinggal seorang sultan. Dia adalah seorang gubernur di jogja. Orang-orang jogja menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Jumlah populasi kota Jogja 3,5 juta penduduk. Jalan Malioboro adalah jalan utama di jogja. Di sana ada banyak pasar tradisional. Khususnya ada banyak toko di sana. Di Jalan Mariobolo ada banyak sepeda motor. Orang-orang di sana sangat ramah. Sekeliling Jalan Malioboro ada banyak becak dan andong. Di Jogja ada banyak rumah bubin. Orang-orang di jogja beragama macam-macam. Agama Islam, agama Keristen, agama Katolik, agama Budha, agama Hindhu. Jogja adalah sebuah kota yang indah dan damai.

Perbandingan antara Kota di Korea dan Kota Jogja (Jogjakarta = Gyeongju)

Kota Jogja mirip (hampir sama) dengan sebuah kota di Korea, namanya Gyeongju. Kota Gyeongju adalah sebuah kota pendidikan di Korea. Gyeongju adalah ibu kota pada zaman dulu masa Dinasti Sila. Di sana masih ada banyak warisan kebudayaan. Khususnya ada banyak kebudayaan Budha. Gyeongju adalah sebuah kota yang indah. (“Kota Jogja di Korea adalah kota Gyeongju”).

Saya dan teman-teman saya yang kursus di Wisma Bahasa telah dibawa berjalan-jalan di kota Yogyakarta pada 30 Juni 2007. kota Yogyakarta, dengan segala sejarahnya terlalu menarik untuk dikaji. Tidak lengkap berwisata ke Indonesia jika tidak berwisata di Yogyakarta, atau Jogja. Kota ini dibangun ratusan tahun dan pernah menjadi pusat kerajaan Mataram kira-kira lima ratusan tahun dulu sampai sekarang. Kraton, atau istana sultan masih ada dan menjalankan fungsinya.

Jogja punya banyak universitas, mungkin banyaknya 30 buah. Di jogja juga merupakan lokasi banyaknya mahasiswa. Sebab itu banyak toko-toko di jogja yang menjual barang murah !

Penulis: Kim Jae-Hun, murid, Diplomat Korea Selatan, Level Beginner
 



[ kembali ke Daftar Isi ]







 

 

 

Karangan Murid

Jesus Pengantara

Bagaimana Jesus memainkan peran antara hubungan dengan orang yang beragama? Apakah peran itu bisa dipakai sebagai contoh tanpa mengurangi posisi Pengantara di tengah manusia dan Allah seperti yang dimaksud dengan pikiran reformatoris?

Menurut dogma reformatoris Yesus sebagai Pengantara di tengah manusia dan Allah merupakan salah satu hal terpenting. Sejak Adam dan Hawa telah jatuh dalam dosa, manusia dan Allah dipisahkan dan tidak ada hubungan langsung dengan Allah. Karena dosa manusia, tidak ada kemungkinan untuk seseorang mendapat keselamatan dengan buatan sendiri, tetapi dia terus tergantung kepada Yesus yang membenarkan manusia. Pembenaran itu terjadi di Golgota waktu Yesus disalibkan di antara dua orang kriminal. Salah satu mereka minta perhatian Yesus ketika dia masuk ke sorga. Dan, Yesus menjawab bahwa dia memang akan masuk ke surga langsung bersama dengan Yesus. Tidak ada informasi lain mengenai orang tersebut, apakah agama, budaya atau lain. Jadi, pembenaran adalah keperluan untuk seluruh manusia. Jadi, Yesus sebagai mediator.

Walaupun sifat dogma itu sangat eksklusif Yesus sendiri tidak pernah mencari konfrontasi dengan pendapat lain. Oleh karena itu Yesus juga bisa diperlakukan sebagai pengantara atau mediator di tengah agama-agama dan khususnya berkaitan dengan “interreligious dialog” pada hari ini. Tampaknya pada waktu zaman Yesus, di Palestina orang Farisi dan ahli-ahli taurat yang bersifat fundamental. Dia disangka oleh mereka terlibat gerakan melawan Negara Roma dan mendirikan sekte palsu yang menolak agama Yahudi. Tetapi hal itu tidak benar menurut Pontius Pilatus yang telah bilang: Tidak ada kesalahan pada diri Yesus. Bahkan hakim tersebut mengejek dakwaan mereka dan dia hanya menghakimi menurut pendapat bangsa Yahudi karena takut konsekuensi, bukan menurut keadilan. Berarti Yesus sebagai mediator yang ditolak oleh manusia. Baik sebagai perantara manusia dengan Allah maupun pengantara masing masing manusia.

Mengapa manusia memilih perjuangan dan tidak mau berdamai dan berdialog dengan agama lain? Mengapa manusia sering berpikiran terlalu sempit dengan nilai-nilai agama? Mungkin sebab itu bisa ditemukan dalam spiritualitas dan mentalitas manusia. Sekadar contoh. Di desa sederhana ada dua orang tua yang sanga saleh, salah satunya adalah seorang yang telah bertobat dan memiliki pendapat yang moderat dan luas mengenai hubungan dengan orang non-kristen, seorang yang lain kesalehnya tidak berani menerima non-kristen. Perbedaan di antara mereka adalah, yang pertama sudah mengenal orang non-kristen sebagai teman dekat. Tetapi orang kedua belum berhubungan dengan orang non-kristen. Jadi mengenal dan mendalami agama lain merupakan kunci dialog. Ketika manusia mengasihi dan menghargai orang lain sebagai ciptaan Allah manusia juga bisa mulai dengan dialog. Pertama kecurigaan harus diubah menjadi kepercayaan dan penghargaian dan saling menghormati, setelah itu orang kristen bisa ikut Yesus sebagai pengantara.

Hal-hal yang bisa diperhatikan dengan baik adalah nilai-nilai sosial sebagai hal praktis. Kelihatnya Yesus membahas bagaimana tradisi pada hari sabat, bagaimana hubungannya dengan sekte Samaria, bagaimana hal hal etis seperti korupsi (Simon Pemungut Cukai), bagaimana hal etis (Perempuan yang berzina) dan lain lain. Ketika Yesus dicobai oleh orang fundamental dia menolak mengasihi setiap orang tanpa syarat (termasuk non-kristen) dan para pelawan takut untuk mengasihi orang yang belum dikenal. Sekali lagi kenalan dan penghargaan pendapat orang lain merupakan dasar dialog yang tegas.

Senantiasa ketika Kisah Para Rasul diteliti dengan kritis bisa dikonstatir bahwa para rasul tetap ikut agama Jahudi. Mula mula mereka ditolak memasuki sinagoga karena pertentangan sosial, para rasul meninggalkan persekutuan Jahudi. Tetapi tidak pernah mereka mencari konfrontasi tentang hal dogmatis dan praktis. Waktu mengunjungi Athene meskipun Paulus mencampurkan dengan orang non-kristen, dia mencari dialog dan persentuhan dengan agama lain. Tujuan dialog itu bukan menerima pendapat orang non-kristen dan Paulus tetap menargetkan kehidupan social dan etis. Waktu perkembangan dan penyebaran agama kristen tampaknya ada proses radikalisasi dan eksklusivisme. Nilai-nilai sistematis mendapat prioritas, dan gereja mulai dengan melestarikan tradisi-tradisi. Proses itu merupakan awal bahaya fundamentalis yang sempit. Langkah demi langkah perhatian sosial diberantas dan eksklusivisme dan fundamentalisme menjamur di gereja kristen. Waktu zaman gelap gereja di Eropa mempunjai banyak perlawanan sehingga kekerasan dipakai untuk mengerdilkan semua oposisi.

Akhirnya gereja harus dibebaskan dari semua eksklusivisme. Waktu abad 16 di Eropa gereja dipaksa berbalik ke situasi dan konteks dahulu yaitu lebih terbuka untuk spiritualitas lain yang berada di dalam gereja terlebih lebih di luar gereja yaitu orang non-kristen. Keadaan agama lain yang mempengaruhi spiritualitas dan sistematika kristen harus diperlakukkan dengan serius karena agama Kristen tidak lagi agama satu-satunya, tetapi ada agama lain misalnya agama Budha dan Islam. Nilai-nilai agama telah harus dikaji supaya dialog bisa direalisasikan, pendapat mengenai misi dan dakwah harus dipikirkan bersama dengan arti anugerah dan keselamatan. Proses itu berhasil dengan visi baru dan sangat revolusioner. Salah satu tokoh gerakan reformasi adalah Maarten Luther. Dia tetap mencari dialog dengan lurus dan tidak pernah mau dipisahkan dari gereja. Untungnya Luther dikeluarkan dari gereja Roman Katolik. Gerakan reformasi menjadi gereja reformatis dan tokoh kedua bernama Johannes Calvin jang juga mendalami relasi dengan gereja dan agama lain dengan pertanyaan kritis; bagaimana anugerah Allah bisa atau tidak bisa dialami ecclesiam nulus satus est, orang kristen harus berpikir apa yang dimaksud dengan ecclesiam. Kalau ecclesiam adalah suatu persekutuan spiritual yang tidak dibatasi oleh pikiran manusia, tetapi dipilih oleh Allah bagaimana orang non-kristen bisa partisipasi atau tidak? Awal abad 20 di German Karl Barth mengembangkan teologi baru sebagai reaksi pada perang dunia kedua. Menerut Barth fundamentalisme dan eksklusivisme menjadi kerusakan bagi masyarakat.

Aktualistas hari ini adalah toleransi, sesuatu magic world untuk mendamaikan dan melembutkan ketentangan masyarakat. Tetapi identitas dan tradisi dijaga sebagai sifat unik setiap agama dan budaya. Hanya karena identitas unik, dialog antara agama merupakan aktivitas yang sangat menarik. Yesus tetap mencari dialog itu untuk mencurahkan isi hati dengan menghormati dan menghargai orang lain. Memang orang yang beragama berdialog dengan senang ketika topik dialog adalah hal hal sosial dan praktis. Dengan proses itu orang yang beragama mencari jalan kehidupan bersama. Khusus di masyarakat multi agama, multi etnis dan multi budaya seperti di masyarakat Indonesia dan Belanda, toleransi adalah sesuatu yang magic world. Yesus bisa diikuti sebagai contoh pengantara di tengah agama kristen dan agama non-kristen. Tetapi apakah posisi dan arti Yesus dikurangi dengan visi ini? Apakah citra Yesus sebagai Juru Selamat yang membenarkan dan membebaskan manusia, atau dengan kata lain Pengantara manusia dan Allah, bisa dicampur dengan citra lebih praktis dan sosial. Bagaimana dengan garis vertikal (manusia dan Allah) dan garis horizontal (garis manusia di antara mereka) yang harus diseimbangkan. Toleransi punya batas dan batas harus ditoleransi. Hanya dengan spiritualitas yang benar, agama lain bisa diterima dan dihargai tanpa mengurangi identitas unik agama masing masing. Kalau begitu, orang kristen bisa beriman kepada Yesus sebagai pengantara di antara manusia dan Allah, dan bisa mengikuti Yesus sebagai contoh berdialog lewat sambil lalu.

Penulis: Peter van Bruggen, dosen STT Sundermann Nias, Indonesia. Pendeta yang ditugaskan oleh Protestantse Kerk in Nederland. Saat ini sedang belajar Bahasa Indonesia di Wisma Bahasa.
Level: Advanced.



[ kembali ke Daftar Isi ]


 


Kronik Indonesia
Peristiwa yang terjadi setiap hari di Indonesia pada bulan Mei

5/6
DPR dan pemerintah menyepakati asumsi makro-ekonomi bidang keuangan tahun 2008 seperti pertumbuhan ekonomi di kisaran 6,5-6,9 persen, inflasi pada kisaran 5,5-6,5 persen, dan rata-rata nilai tukar Rp 9.100–Rp 9.400 per dollar AS.

6/6
Presiden Timor Leste Ramos Horta dalam kunjungan ke Jakarta menyatakan, bahasa Indonesia akan digunakan sebagai bahasa kerja (working language), bukan sebagai bahasa resmi kenegaraan.

12/6
Penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara pada tahun 2006 tercatat 12,8 juta orang. Dari jumlah itu, 68,5 persen adalah perempuan.

15/6
Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia menyatakan bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia tergolong tinggi, yaitu 236.000 megawatt electrical. Namun, hanya termanfaatkan kurang dari 2 persen. Jika potensi itu dioptimalkan, bisa mengatasi krisis energi di Indonesia karena menipisnya cadangan minyak bumi.

16/6
Pemimpin tertinggi atau amir darurat kelompok Jemaah Islamiyah, Zarkasih alias Mbah (45) telah diringkur tim polisi antiteror di Daerah Istimewa Yogyakarta, selang sekitar enam jam sesudah penangkapan Abu Dujana (37) di Banyumas, Jawa Tengah, tanggal 6 Juni lalu.

20/6
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, ada sekitar 45 juta penderita kebutaan di dunia. Selain itu diperkirakan dari 12 orang menjadi buta setiap menit, empat di antaranya ada di Asia Tenggara. Di Indonesia setiap menit diperkirakan satu orang menjadi buta.

21/6
Data riset Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia menunjukkan, 94 persen penduduk Indonesia saat ini mengalami depresi dari tingkat yang ringan hingga berat..

22/6
Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan jajaran dinas sosial di daerah agar tidak membangun banyak panti jompo. Ini karena tidak sesuai dengan konsep budaya Indonesia yang menghormati orangtua.

25/6
Dua siswa SMA Semesta Semarang, Jawa Tengah, Choiruddin Anas dan Indrajit Ali, meraih medali emas dalam olimpiade Proyek Lingkungan Internasional atau Inepo di Istambul, Turki. Mereka mengangkat topik “Enceng Gondok sebagai Biofilter untuk Logam Berat”.

30/6
Cendekiawan Muslim, M Quraish Shihab, menyatakan bahwa sains dan agama sesungguhnya tidak dalam posisi saling bertentangan, tetapi justru dapat saling mendukung. Hanya saja, sejauh mana adaptasi di antara keduanya memang tidak terlepas dari interpretasi dan kualitas penelitian serta akurasinya.

[ kembali ke Daftar Isi ]






 




Tata Bahasa

Memakai Afiks me - i

Di bawah ini adalah kunci jawaban latihan tatabahasa untuk edisi yang lalu.
 

Menggantikan kata ganti orang ketiga tunggal
Sebagai kata ganti penunjuk atau artikel
Untuk memberikan tekanan
Sebagai kata tugas
Sebagai kata ganti penunjuk atau artikel
Untuk membendakan kata kerja
Menggantikan kata ganti orang ketiga tunggal
Sebagai kata ganti penunjuk atau artikel
Untuk membendakan kata kerja.
Sebagai kata ganti penunjuk atau artikel

Pada edisi ini kita akan belajar tentang pemakaian afiks me-i. Bentuk me-i mempunyai beberapa fungsi. Afiks me–i mempunyai fungsi yang sama dengan afiks me–kan yaitu membentuk kata kerja aktif transitif. Afiks me–i bisa ditambahkan ke kata dasar kata kerja, kata benda dan kata sifat. Affix me–i has same function with affix me–kan, that is forming transitive verb. Affix me–i can be added to verb, noun and adjective root word.

A. Kata dasar kata kerja
     When added to verb root verb.

     1. Dengan kata dasar kata kerja transitif (seperti: memukul, menembak, mengambil dan lain-lain)          mempunyai arti: subjek melakukan aktivitas berkali-kali. When added to transitive verb root word          (memukul, menembak, mengambil) affix me–i has meaning: subject doing the activity intensively or          repeatedly.

        Contoh:
- Pak Adi mengambili buku-buku di lantai. = Pak Adi mengambil berkali-kali buku-buku di lantai.
- Pak Pahing sedang menutupi jendela. = Pak Pahing sedang menutup berkali-kali jendela

     2. Dengan kata dasar kata kerja transitif (seperti: mengirim, mengajar, meminjam, memberi, menawar)          objek sesudah kata kerja adalah objek tidak langsung. When added to transitive verb root word          (mengirim, mengajar, meminjam, memberi, menawar) the object after the verb is the indirect object.

         Contoh:
- Setiap bulan ibu mengirimi saya uang. = Setiap bulan ibu mengirimkan uang kepada saya.
- Teman saya mengajari saya bahasa Belanda. = Teman saya mengajarkan bahasa Belanda kepada saya.

     3. Dengan kata dasar kata kerja intransitif (seperti: duduk, masuk, datang, lewat dan lain-lain)          mempunyai arti: subjek melakukan aktivitas + preposisi di, ke, dari. When added to intransitive verb          root word (duduk, masuk, datang, lewat) has meaning: subject doing activity + preposition di, ke or dari.

          Contoh:
- Siwi mendatangi rumah temannya. = Siwi datang ke rumah temannya.
- Mobil ambulan melewati jalan Gejayan = Mobil ambulan lewat di jalan Gejayan.

 

Latihan

Berilah arti afiks me-i pada kalimat-kalimat di bawah ini! Give the meaning of affix me- i in these sentences below!

E.g. - Dewi mendatangi pesta ulang tahunku.. = Dewi datang di pesta ulang tahunku.
              

1. Anak-anak Amin sedang mewarnai gambarnya.

2. Mereka melempari buah mangga di atas pohon.

3. Bapak memagari kebunnya supaya ayam-ayam tidak bisa masuk
4. Ibu menawari saya makanan yang enak.
5. Guru tidak boleh menduduki meja ketika mengajar.
6. Presiden Indonesia akan mendatangi pertemuan APEC.
7. Teroris itu menembaki orang-orang di sepanjang jalan itu.
8. Polisi memukuli mahasiswa yang sedang berdemonstrasi.
9. Saya tidak mau lagi meminjami dia uang.
10. Mike mengambili kertas-kertas yang jatuh di lantai.
 


[ kembali ke Daftar Isi ]




 

 

Realia
Rubrik ini berisi tentang realia atau media pengajaran yang dipakai di Wisma Bahasa
   


[ kembali ke Daftar Isi ]



 

 

 

 

 

 




Percik
Rubrik ini berisi tentang hal-hal yang lucu dan ringan serta kadang-kadang terjadi dalam setiap proses belajar, baik tentang pilihan kata, sinonim, idiom-idiom atau cara bicara. Tapi misi dari rubrik ini bukan untuk mentertawakan murid tapi belajar dari kesalahan-kesalahan itu untuk perbaikan selanjutnya. Oleh karena itu redaksi menerima cerita-cerita lucu dari guru ataupun murid.

Pulang ke Wisma Bahasa

Suatu malam seorang murid Wisma Bahasa jalan-jalan di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada. Ketika akan pulang ke hotelnya, hotel Puri Artha, dia tersesat. Dia bertanya pada beberapa orang yang ada di sana, tetapi mereka juga tidak tahu di mana hotel itu. Akhirnya murid itu bertanya di mana Wisma Bahasa. Murid itu terkejut karena mereka semua tahu di mana Wisma Bahasa dan menunjukkan arahnya.
“Wah Wisma Bahasa lebih terkenal!” pikir murid itu sambil bergegas pulang ke Wisma Bahasa. Ya, Wisma Bahasa tempat kita bisa ‘pulang’ .

 


[ kembali ke Daftar Isi ]





 

 

 

 





Masalah Kebahasaan

Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid seputar permasalahan kebahasaan


Tanya:
Kalimat di bawah ini mana yang benar. Mohon dijelaskan.
1. Wisma Bahasa ulang tahun pada bulan ini.
2. Wisma bahasa berulang tahun pada bulan ini.
Terima kasih sebelumnya.

Theo, Belanda

Jawab:
Kata ‘ulang tahun’ adalah kata benda. Sementara kata ‘berulang tahun’ adalah kata kerja, sehingga untuk kalimat di atas yang benar adalah ‘Wisma Bahasa berulang tahun pada bulan ini’.
Sedangkan kalimat ‘Wisma Bahasa ulang tahun pada bulan ini’ adalah kalimat informal.
Pemakaian kata ‘ulang tahun’ yang benar adalah pada contoh kalimat ‘Ulang tahun Wisma Bahasa diadakan/terjadi pada bulan ini’


[ kembali ke Daftar Isi ]





 

 

 

 

 





Mozaik Wisma Bahasa
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Wisma Bahasa

09/06 Memasak di rumah Herna
Pada tanggal 9 Juni bulan lalu, beberapa murid dan guru mengadakan acara masak di rumah Herna.

23/06 Memasak dan menonton film di rumah Danu
Beberapa murid dan guru mengadakan acara memasak dan menonton film bersama di rumah Danu.

29/06 Ulang tahun murid dan staf WB
Murid dan staf Wisma Bahasa yang berulang tahun di bulan Juni dirayakan pada tanggal 29 Juni. Untuk merayakannya diadakan makan siang bersama. Selamat ulang tahun ya, panjang umur dan sukses selalu!

     


[ kembali ke Daftar Isi ]







 

 

 

 

 




 
Selamat Kawan !!

Selamat Ulang tahun kami ucapkan untuk murid, mantan murid, dan staf serta karyawan Wisma Bahasa di mana pun Anda berada. Kami tidak akan pernah melupakan Anda. Semoga Anda selalu baik dan semakin baik.... sukses selalu!!!!
1/7   Christine, Aisa Okumura, Shin Jong Hyon,
2/7   Kate Shanahan, Michael Pomeroy,
3/7   Philippa Zainoeddin,
4/7   J.E.Pangestian Harapan, Patrick Jilani Baffoun, Maria van Twist, Carina Hallengren, Patrick Baffoun, Randi         Nissen,
5/7   Robert Adams, David Alan Stangor, Melanie Predergast, Eri Tokawa, Stagey Tighe, Audra Dykman,         Cathie Stoffell, Ralf Huth,
6/7   Marie Gaelle Petard, Nobuhiro Morimoto, Laetitia Lemaistre, Nonie, Suradi,
7/7   Waltraud Ruhrnschopf, Janet Hohnen, Ren Obrigewitch, Catherine anne MacDonald, Sharon A.Hellman,         Birgit Susanne Oppman, Nur
8/7   Ai Kurokawa, Daniel Bampton, Edwina Hart, Uwe Muller, Rebecca Kelly
9/7   Helen Patricia Day, Naoko Yamada, Anne-Marie van Wierst, Arellano A.Colongon, Jr., Canilla         WillemseLarsen, James McClure, Jesseca Dyroff, Elvira Leuenberger, Robin Davis, Kara Raymond,
10/7 Markus Lerch, Maxine Thomas Smith, Wibke Crewett, Danu
11/7 Tessa Roorda, Iain-Murdo Matheson, Jeffrey W.Lindstrom, Adrian Tilley, Siaan Matthews,
12/7 Rodney Mason, Jim Barnett, James Arthur, Azusa Kawazoe, Thomas Hartwig, Atsushi Takahara,
13/7 Erin Forsberg, Esther Wong Hershman, Mark E.Westcott, Christoph Anton, Michelet Pierre-Lucien, Steven         Barraclough, Johanna Knoess, Akiko Hiroki,
14/7 Lorrie Anshan, Salomea Reith, Heru, Emil,
15/7 Kyoichi Murata, Natsuki Kawano, Kelly Herne, Junko Sato, Heiner Walenda, Gerrit Meyer
16/7 Michael Tyson Taylor, Fauvel Jean-Baptiste, Michael Brendan Bluett, Noriko Matsuda, Catherine Plumride,         Nagisa Ito.
17/7 Janet Bartold, Kyaw Ti Wa,
18/7 Wilfried van der Poll, Jan Wezendonk, Kanako Kobayashi, Stephanie Nussbaumer, Misato Yamada,
19/7 Sharon Mechelle Kidman, Karrie McLaughlin, David Osborn, Stephan Clowry,
20/7 Emmet Brian O'Malley, Nigel Sizer, Cathrine Bullinger, Todd Whitehead, Cate Low, Muginem,
21/7 Peter Goldsworthy,
22/7 Z.Nowicki, Jesus Villareal, Peter Donaldson, Mille W.Lund, Paul O'Hare, Uwe Rittman, Wisma Bahasa
23/7 Ian Dale mcGaffin, Renske Uljee, Stephanie McWhoter, Kate Finlayson, Dominic Earnshaw, Antonio         Tricarico, Claudia Schebert,
24/7 Miho Takemura, Mark Robinson, Akiko Yamazaki, Takuro Fujimoto, Tamara Verhagen, Alexandre Marcel         Goulet,
25/7 Josephine Smyth, Claudia Gonzales, Astrid van Genderen Stort, Gary D Ross, Anna Hidalgo, Mami Noda,         Georgina Harrison
26/7 Kate Simpson, Scarlet Love,
27/7 Thom Bruce, Eillen Robin Merritt,
28/7 R. Joel Coward, Addis Anton, Tiffany McDonald, Bency Issac, Su Lin Lewis, Aleksandra Barnes, Stuart         Wilkinson
29/7 Theo Bakkenes, Amanda Smith, Mary Ward Jackson,
30/7 Tyrone Jubinville, Larec C.Hammer, Sayoko Kojima, Frederick Frisell, Naomi Vodden,
31/7 Sylvia Beiwinkler, Anthony J.Simmonds, Yolande Armstrong, Oleksiy Ivaschenko, Nicholas Scott Thomas,         Michael Jonsson, Claire Beston


ALUMNI

 

Selamat bagi murid yang pada bulan Juni lalu sudah selesai belajar... semoga kenangan baik selalu ada pada kita. Selamat bekerja...jangan lupa untuk selalu mempraktikkan bahasa Indonesia
 

Elise Steyaert - (Belgia/PBI)
Volker Dally - (Jerman /VME Jerman)

Kristina Hickey - (Australia/Australia Embassy)
Kathrin Hecke - (Jerman/PBI)
Darra McGee - (Australia/individu)
Stephane Bennin - (Jerman/German Embassy)
Selven Vuddamalay - (Inggris/mhs SOAS Univ of London)
Joachim Von Amsberg - (Jerman/World Bank - Country Director)
Philip Jenkins - (Inggris/individu)
Michelle Oser - (Perancis/individu)
Takashi Masaki - (Jepang/PT. Mitsui)
Naureen Amin - (Pakistan/OXFAM Australia di Timor Leste)
Eugene Kohar - (Indonesia/mahasiswa)
Adam Harr - (Amerika/mhs Univ. Virginia)
Terry Leo Smith - (Australia/Redpath)
David King - (Australia/Redpath)
Ben Lai - (Australia/individu)
Seiko Namba (Jepang/Kedutaan Jepang)


DAN YANG TIDAK BOLEH LUPA :

Bulan Juli, tepatnya tanggal 22, Wisma Bahasa berulang tahun ke-25. Untuk merayakannya, ada banyak acara yang telah dipersiapkan. Rangkaian acaranya yaitu:

1. Seminar tentang Global Warming dan dilanjutkan Potong tumpeng bersamaan dengan ulang tahun murid dan staf (25 Juli 2007)
2. Aksi Sosial (28 Juli 2007) - kunjungan ke Integrated Cattle Farming dan Children Center di desa Nogosari, Bantul.
3. Lomba foto dan kartu ucapan (16 Juli - 16 Agustus 2007)
4. Lomba Masak (1 Agustus 2007)
5. Kunjungan ke PPSJ - Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (11 Agustus 2007)
7. Sepeda Gembira (18 Agustus 2007)
8. Puncak acara: Malam Indonesia (24 Agustus 2007)

Jadi, jangan sampai ketinggalan ya!

JOIN US AND WE WILL SHARE THE CELEBRATION!!



[ kembali ke Daftar Isi ]
You are in : Home > Bulletin
Back to main frame/page



Copyright (C) 1996-2010 Wisma Bahasa. All rights reserved