Minat Belajar Bahasa Jawa Menurun

Artikel ini hasil wawancara wartawan Kompas Jogja dengan Direktur Wisma Bahasa dan beberapa orang asing yang pernah mempelajari bahasa Jawa di Wisma Bahasa. Artikel ini sudah dimuat di harian Kompas edisi Jogjakarta tanggal 4 Februari 2010.

Minat warga negara asing mempelajari bahasa Jawa makin turun pararel dengan turunnya penggunaan bahasa Jawa di masyarakat. Empat tahun terakhir, jumlah warga asing yang belajar bahasa Jawa di Wisma Bahasa tidak lebih dari lima orang setahun. “Dari sekitar 559 orang asing yang belajar di Wisma Bahasa setahun ini, hanya tiga orang yang mengambil pelajaran bahasa Jawa,” kata Direktur Wisma Bahasa Agus Soehardjono di Yogyakarta, Rabu (3/2).

Wisma Bahasa merupakan salah satu dari sekitar lima lembaga kursus bahasa di Yogyakarta yang menyediakan pelajaran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia untuk orang asing. Sekitar 10 tahun yang lalu, minat warga asing mempelajari bahasa Jawa di lembaga ini lebih baik, mencapai 10-15 orang dalam setahun. Selain Jepang, ujar Agus, sebagian besar adalah warga Australia dan sejumlah negara di Eropa. Mereka mempelajari bahasa Jawa dengan berbagai kepentingan, antara lain militer, diplomasi, akademis, penelitian, maupun sekadar ketertarikan.

Menurut Agus, pada saat itu, bahasa Jawa masih sangat dibutuhkan untuk penelitian sosial di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Sebelum meneliti, para peneliti luar negeri biasanya mempelajari bahasa Jawa untuk memperlancar wawancara dengan penduduk. “Namun, sekarang tidak lagi. Peneliti merasa cukup berbahasa Indonesia karena sekarang ini penggunaan bahasa Jawa di masyarakat pun sudah sangat berkurang,” kata Agus.

Faktor politik

Selain faktor sosial budaya, kata Agus, faktor politik turut memengaruhi minat warga asing belajar bahasa Jawa. Memudarnya nuansa Jawa dalam politik Indonesia pasca-Soeharto membuat warga asing merasa tidak lagi perlu belajar bahasa Jawa. Setelah Soeharto lengser, salah satu sekolah militer Australia yang bekerja sama dengan Wisma Bahasa menghentikan pelajaran bahasa Jawa. Warga Belanda, J Bosman, yang tinggal di Yogyakarta sekitar empat bulan mengatakan tidak membutuhkan bahasa Jawa karena cukup belajar bahasa Indonesia. “Saya sudah dapat berkomunikasi dengan lancar dengan bahasa Indonesia saja. Hampir tidak ada orang yang menggunakan bahasa Jawa dengan saya,” katanya.

Warga Jepang, Tomomi Kimura, yang mempelajari bahasa Jawa empat bulan terakhir, mempelajarinya karena kebutuhan mempelajari filosofi dalam motif dan corak batik, serta jajanan pasar.

Tags: , ,

Posted in Special Report

2 Responses to “Minat Belajar Bahasa Jawa Menurun”


Yunita May 17th, 2010 at 14:10

Sebagai warga jawa,kita seharusnya bangga dengan bahasa yang kita miliki,karena warga asing pun ikut mempelajari bahasa jawa yang kita miliki.Oleh karena itu bahasa jawa perlu dipertahankan supaya tidak punah!

belajar bahasa jawa December 23rd, 2010 at 18:15

Sungguh sangat disayangkan yah, kita yang punya bahasa jawa nggak mau mempelajarinya malah suka bahasa asing. Memang bahasa asing penting buat pergaulan dunia…tapi melupakan bahasa ibu adalah suatu kerugian…



Leave a Reply