Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 561627 / +62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Penyebab dan Pemicu

”Narkoba, Pemicu Kecelakaan Jalan Raya”. ”Kemiskinan Salah Satu Pemicu Munculnya Terorisme”. ”Pemimpin Yang Tidak Tegas Pemicu Gerakan Separatis”. ”10 Pemicu Utama Migrain”. ”Pengadilan Rahasiakan Pemicu Cerai Lydia Kandou dan Jamal Mirdad”. ”Tingkat Ekonomi Rendah Pemicu Kejahatan”.

Judul-judul di atas diambil secara acak dari situs-situs berita daring di Tanah Air. Bila ditelusuri lebih jauh, ada ribuan judul yang menggunakan kata pemicu dipakai untuk menjelaskan hubungan kausalitas dalam peristiwa kecelakaan, kondisi sosial, atau penyakit yang menyerang manusia. Tesaurus Bahasa Indonesia karya tulen Eko Endarmoko (Cetakan 3, Gramedia Pustaka Utama) memang memadankan penyebab dan pemicu. Dalam kamus, penyebab dan pemicu sejajar.

Penyebab dan pemicu sama-sama mengandaikan hukum kausalitas: akibat meniscayakan sebab. Hukum ini berlaku untuk semua bidang ilmu dan pengetahuan, juga agama. Kata orang beriman, dosa adalah penyebab retaknya hubungan manusia dengan Allah.

Picu sebagai nomina dan kata dasar dari pemicu merupakan bagian atas pelatuk yang digerakkan dengan telunjuk pada waktu menembak. Memicu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, berarti menarik picu atau menggerakkan sesuatu yang berakibat membahayakan. Jadi, picu berhubungan dengan dorongan atau gerakan yang mengakibatkan keadaan bahaya. Dengan demikian, pemicu bukan sumber, melainkan faktor yang meletuskan, mencetuskan, menggerakkan, atau menyulut (bnd Tesaurus Bahasa Indonesia); sedangkan sebab sebagai nomina diartikan hal yang menjadikan timbulnya sesuatu, (asal) mula (KBBI).

Dalam tulisan-tulisan ilmiah, penyebab dan pemicu dibedakan. Identifikasi penyebab penting untuk mengetahui pemicu. Penyebab lebih mendasar sifatnya dan mendahului pemicu. Dalam berbagai analisis, penyebab penyakit serius, krisis keuangan, atau konflik sosial, misalnya, tidak tunggal. Ada beberapa penyebab tawuran warga Kampung Polan, antara lain luka-luka lama yang tak tuntas, pro-kontra di antara warga kampung terhadap kepala desa terpilih, akses kepada sumber daya ekonomi yang tidak merata, dan kecemburuan sosial. Tatkala dua pemuda Kampung Polan berkelahi, tawuran meletus. Perkelahian dua pemuda itu merupakan pemicu tawuran.

Pada sampul kotak rokok dan baliho iklan rokok yang dipajang di pinggir jalan kota-kota besar tertulis peringatan: ”Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Peringatan ini menyatakan rokok sebagai penyebab dan bukan pemicu, trigger, sederet penyakit.

Judul ”Kemiskinan, Salah Satu Pemicu Munculnya Terorisme” memancing pembaca bertanya: jika kemiskinan merupakan pemicu terorisme, apakah penyebabnya? Dalam jurnalisme daring yang serba ringkas dan segera, pertanyaan terjawab dengan membaca berita kendati secara eksplisit kerap tak disebut penyebabnya. Padahal, kesalahan mengidentifikasi penyebab dan pemicu mengakibatkan salah resep dan strategi dalam mengatasi suatu masalah sosial atau penyakit. (oleh: Rainy MP Hutabarat Cerpenis | Kompas Cetak)

One thought on “Penyebab dan Pemicu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *