Wisma Bahasa

MORPHOPHONEMIC CHANGE IN INDONESIAN LANGUAGE FROM FORMAL LANGUAGE TO INFORMAL LANGUAGE

In daily conversation, Indonesians usually use informal language. Is informal language different from formal language? Yes, quite different, but it can be learned of course! An important key to learning about this change is to remember the root word. Here’s the guide.

  1. The word with with me(N-) affix.

The rule for words with me(N-) afiix is that it removes the affix and replaces it with another sound. This change to other sounds is based on certain nasal sound rules. For example, the root word ​dorong with me(N-) will become mendorong in formal language. Then, in informal language, this word will become ndorong.

Examples of formal language sentence, “Dia mendorong pintu itu.

Examples of informal language sentence, “Dia ndorong pintu itu.

  1. The word with me(N)-kan and me(N)-i affix.

The guidelines for the words with me(N-)-kan and me(N)-i are replacing the affix me(-N) with certain nasal sounds and replacing the suffixes -kan and -i with ​​in. ​​ For example, the root word ​bersih with me(N) -kan affix becomes membersihkan. ​​ The word membersihkan becomes ngebersihin  in the informal language. Another example, the root word ​ambil with me(N)-i affix becomes ​mengambili and in informal language becomes ​ngambilin.

Examples of formal language sentence, “Dia membersihkan   kamarnya.”

Examples of informal language sentence, “Dia ngebersihin kamarnya.”

Examples of formal language sentence, “Dia mengambili buku-        bukunya di lantai.”

Examples of formal language sentence, “Dia ngambilin buku-bukunya        di lantai.”

Learning the concept of informal language will be very useful for those of you who are going to stay in Indonesia, especially if you want to chat directly and be familiar with Indonesians. No worries! Learning informal language is a piece of cake. Wisma Bahasa is here to assist you to practice speaking informal languages. What informal language vocabulary have you heard in Indonesian Language?

Dalam percakapan sehari-hari, orang Indonesia biasanya menggunakan bahasa pergaulan. Apakah bahasa pergaulan cukup berbeda dari bahasa formal? Ya, cukup berbeda, tetapi bisa dipelajari tentu saja! Kunci yang penting untuk mempelajari perubahan ini yaitu ingatlah kata dasarnya. Berikut panduannya.

  1. Kata berimbuhan me(N)-

                Aturan untuk kata berimbuhan me(N-) yaitu justru menghilangkan afiksnya dan menggantinya dengan bunyi lain. Penggantian bunyi lain berdasarkan aturan bunyi nasal tertentu. Contohnya, kata dasar dorong jika dibubuhi prefiks me(N)- akan menjadi mendorong dalam bahasa formal. Kemudian, dalam bahasa pergaulan, kata ini akan menjadi ndorong.

Contoh kalimat bahasa formal, “Dia mendorong pintu itu.”

Contoh kalimat bahasa pergaulan, “Dia ndorong pintu itu.” 

  1. Kata berimbuhan me(N)-kan dan me(N)-i

                Pedoman untuk kata berimbuhan me(N)-kan dan me(N)-i yaitu mengganti afiks me(N)- dengan bunyi nasal tertentu dan mengganti sufiks -kan dan -i dengan in. Contohnya, kata dasar bersih yang dibubungi afiks me(N)-kan menjadi membersihkan. Kata membersihkan menjadi ngebersihin dalam bahasa pergaulan.

Contoh lainnya, kata dasar ambil yang dibubuhi prefiks me(N)-i menjadi mengambili dan dalam bahasa pergaulan menjadi ngambilin.

Contoh kalimat bahasa formal, “Dia membersihkan kamarnya.”

Contoh kalimat bahasa pergaulan, “Dia ngebersihin kamarnya.”

Contoh kalimat bahasa formal, “Dia mengambili buku-bukunya di lantai.”

Contoh kalimat bahasa pergaulan, “Dia ngambilin buku-bukunya di lantai.

Mempelajari konsep bahasa pergaulan akan sangat berguna bagi Anda yang akan menetap di Indonesia, khususnya jika Anda mau mengobrol langsung dan akrab dengan orang Indonesia. Jangan khawatir! Mempelajari bahasa pergaulan tidaklah sulit. Wisma Bahasa akan menemani Anda untuk praktik berbicara bahasa pergaulan. Apa kosakata bahasa pergaulan yang pernah Anda dengar dalam bahasa Indonesia?

Exit mobile version