Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 [email protected]

THE CULTURAL AND HISTORICAL HERITAGE: COLONIAL FORTS IN INDONESIA

We can find buildings from the colonial era in Indonesia in several places, such as forts. These historical constructions are mostly protected by the Indonesian government and have been designated as a cultural heritage. Check out some of the fortresses from the colonial era in several places in Indonesia:

  1. Fort Belgica

Fort Belgica was built by the Portuguese in 1622 in Banda Naira, Central Maluku, Maluku Province. This pentagon-shaped fort is capable of containing 30–40 soldiers guarding the defense area. In 2015, Fort Belgica was selected as a part of the UNESCO World Cultural Heritage, specifically the Tentative List of the Historic and Marine Landscapes of the Banda Islands.

  1. Fort Duurstede

Duurstede Fort is a 17th-century colonial fort in Saparua, Maluku Province. Initially, the Portuguese built this fort to protect the village of Saparua. Later, this fort was taken over by the colonials. A navigation guide in 1878 stated that “There is a good anchorage near this fort in the westerly monsoon about 12 fathoms.”

  1. Fort Marlborough

Fort Marlborough is located in Bengkulu City, Bengkulu Province. This fort was built by the East India Company (EIC) in 1714–1719 for the British East India Company. Fort Marlborough looks like a tortoise consisting of a tortoise head at the main door and a tortoise body at the main fort.

  1. Fort Vastenburg

Fort Vastenburg is a Dutch heritage fort located in Surakarta City, Central Java Province. The fort was built in 1745 to serve as a location for Dutch surveillance of the Surakarta rulers. Fort Vastenburg has a square shape and is surrounded by a dry moat that serves as protection.

  1. Fort Du Bus

Fort Du Bus was built by the Dutch colonial government on August 24, 1828, in Triton Bay (now West Papua Province). The name of this fort was taken from the name of the ruling Governor-General of the Dutch East Indies at that time, was L.P.J. Burggraaf du Bus de Gisignies. The Indonesian government, especially archaeologists, is still researching the relics of Fort Du Bus.

  1. Fort de Kock

Fort de Kock is located in Bukittinggi City, West Sumatra Province. The fort was established in 1825 by Captain Bouer under the leadership of Hendrik Merkus de Kock. All that remains from the fort are the mound and some cannons. The Bukittinggi Regional Government renovated the fort area and it is now part of the Bukittinggi City Park.

  1. Fort Pendem Cilacap

Fort Pendem Cilacap is located on the coast of Teluk Penyu, Cilacap Regency, Central Java Province. This fort is an abandoned Dutch heritage fort that was established in 1861. This fort was covered with coastal sand therefore the Cilacap Regional Government did some restoration works.

Those are some of the historic forts left by the colonial era. Some of the forts are in their original form, while others have collapsed or been buried. The local government with the support of the central government is still carrying out restoration and maintenance of these historical places. Which fort would you like to visit?

Bangunan peninggalan masa kolonialisme di Indonesia dapat kita temui di beberapa tempat, seperti bangunan benteng. Warisan budaya ini sebagian besar dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan dinobatkan sebagai cagar budaya. Berikut benteng-benteng peninggalan masa kolonialisme di beberapa daerah di Indonesia

1. Benteng Belgica

Benteng Belgica dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1622 di Banda Naira, Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Benteng yang berbentuk segi lima ini mampu memuat 30–40 serdadu yang menjaga area pertahanan. Pada tahun 2015, Benteng Belgica dipilih sebagai bagian dari Warisan Kebudayaan Dunia UNESCO, khususnya Daftar Tentatif Lanskap Sejarah dan Laut Kepulauan Banda.

2. Benteng Duurstede

Benteng Duurstede didirikan pada abad ke-17 di Saparua, Provinsi Maluku. Mulanya, bangsa Portugis membangun benteng ini untuk melindungi Desa Saparoea. Kemudian, benteng ini diambil alih oleh pendudukan Belanda. Sebuah sistem navigasi pada tahun 1878 menyatakan bahwa, “Terdapat pelabuhan yang bagus di dekat benteng ini di musim angin barat sekitar 12 fathom.”

3. Benteng Marlborough

Benteng Marlborough terletak di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Benteng ini merupakan benteng pertahanan Inggris yang didirikan oleh East India Company (EIC) pada tahun 1714–1719. Benteng Marlborough terlihat seperti kura-kura yang terdiri atas kepala kura-kura pada pintu utama dan badan kura-kura pada benteng utama.

4. Benteng Vastenburg

Benteng Vastenburg adalah benteng warisan Belanda yang terletak di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Benteng yang berfungsi sebagai lokasi pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta ini dibangun pada tahun 1745. Benteng Vastenburg berbentuk bujur sangkar dan dikelilingi parit yang berfungsi sebagai perlindungan.

5. Benteng Du Bus

Benteng Du Bus dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 24 Agustus 1828 di Teluk Triton (sekarang Provinsi Papua Barat). Nama benteng ini diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang sedang berkuasa saat itu yaitu L.P.J. Burggraaf du Bus de Gisignies. Saat ini, pemerintah Indonesia khususnya para arkeolog masih meneliti peninggalan Benteng Du Bus.

6. Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock berdiri di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat. Benteng ini didirikan pada tahun 1825 oleh Kapten Bouer di bawah masa kepimpinan Hendrik Merkus de Kock. Kondisi benteng ini sudah hancur sehingga Pemerintah Daerah Bukittinggi merenovasi kawasan benteng dan sekarang menjadi bagian dari Taman Kota Bukittinggi.

7. Benteng Pendem Cilacap

Benteng Pendem Cilacap berlokasi di pesisir pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Benteng ini adalah benteng peninggalan Belanda yang didirikan pada tahun 1861. Benteng ini sempat tertutup pasir pesisir pantai sehingga dilakukan pemugaran oleh Pemerintah Daerah Cilacap.

Itulah beberapa benteng peninggalan masa kolonialisme. Sebagian benteng masih berdiri kokoh secara utuh, tetapi sebagian lainnya sudah hancur atau tertimbun. Pemerintah daerah setempat dengan dukungan pemerintah pusat saat ini masih melakukan restorasi dan perawatan tempat-tempat bersejarah ini. Dari sekian benteng, manakah benteng yang ingin Anda kunjungi?

Dilansir dari berbagai sumber.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: