Wisma Bahasa

THE JAVANESE CALENDAR SYSTEM

The Javanese calendar is the calendar system used by Javanese. The Javanese calendar was used by several previous kingdoms, such as the Mataram Sultanate and other kingdoms. These days, the Balinese and the Tengger tribe also use the Javanese calendar system with a system of dividing weeks more than the majority of Javanese.

The Javanese calendar regulates the cycle of the year, month, and week. There are two cycles in the division of the week.

  1. Siklus mingguan (Weekly cycle)

The weekly cycle consists of seven days. The initial week count starts from Sunday. The seven-day cycle represents the movement of the moon towards the earth.

Indonesian Language

Javanese

Minggu (Sunday)

Ahad [ahat]

Senin (Monday

Senèn [sənɜn]

Selasa (Tuesday)

Selasa [səlɔsɔ]

Wednesday (Rabu)

Rebo [rəbo]

Thursday (Kamis)

Kemis [kəmis]

Friday (Jumat)

Jemuwah [jəmuwah]

Saturday (Sabtu)

Setu [sətu[

 

  1. Pancawara cycle

The Pancawara cycle consists of five days. This week is called ​​pasar or pasaran. ​​  

Pasaran Day Names

Legi [ləgi]

Pahing [pahiŋ]

Pon [pɔn]

Wage [wagə]

Kliwon [kliwɔn]

 

This Pasaran day is still used by the Javanese as a counting days system in certain events, for example in regulating wedding days and the rules for the peak of buying and selling in traditional markets. In Kotagede Market, Yogyakarta, the peak of buying and selling occurs every Legi ​which was enlivened by poultry and ornamental fish traders. Poultry and ornamental fish traders will only hold merchandise at Kotagede Market every Legi. ​The next day, they will trade in other traditional markets that have ​pasaran Pahing,​for example in Sleman Market, Yogyakarta.

The Javanese calendar is a combination of the Islamic, Hindu and Julian calendar systems from Western culture. Therefore, it is not surprising that this calendar system is quite unique and is still preserved until today. So, what is the week dividing system in your place?

Kalender Jawa adalah tata penanggalan yang digunakan oleh orang Jawa. Kalender Jawa digunakan oleh beberapa kerajaan terdahulu, seperti Kesultanan Mataram dan kerajaan-kerajaan lainnya. Saat ini, masyarakat Bali dan suku Tengger juga menggunakan sistem kalender Jawa dengan sistem pembagian pekan yang lebih banyak dibandingkan dengan mayoritas orang Jawa.

Kalender Jawa mengatur siklus tahunan, bulanan, dan pekan. Terdapat dua siklus dalam pembagian pekan yaitu sebagai berikut.

  1. Siklus mingguan

                Siklus mingguan terdiri atas tujuh hari. Hitungan awal pekan dimulai dari hari Minggu. Siklus tujuh hari melambangkan gerakan bulan terhadap bumi.

 

Bahasa Indonesia

Bahasa Jawa

Minggu

Ahad [ahat]

Senin

Senèn [sənɜn]

Selasa

Selasa [səlɔsɔ]

Rabu

Rebo [rəbo]

Kamis

Kemis [kəmis]

Jumat

Jemuwah [jəmuwah]

Sabtu

Setu [sətu[

 

  1. Siklus pancawara

                Siklus pancawara terdiri atas lima hari. Pekan ini disebut dengan pasar atau pasaran.  

Nama Hari Pasaran

Legi [ləgi]

Pahing [pahiŋ]

Pon [pɔn]

Wage [wagə]

Kliwon [kliwɔn]

 

Hari pasaran ini masih dipakai oleh orang Jawa sebagai hitungan hari dalam acara tertentu, misalnya dalam mengatur hari pernikahan dan aturan puncak jual beli di pasar tradisional. Di Pasar Kotagede, Yogyakarta, puncak jual beli terjadi setiap Legi yang diramaikan dengan kehadiran pedagang unggas dan ikan hias. Para pedagang unggas dan ikan hias hanya akan menggelar dagangan di Pasar Kotagede setiap Legi.Hari esoknya, mereka akan berdagang di pasar tradisional lain yang memiliki pasaran Pahing, contohnya di Pasar Sleman, Yogyakarta.

Kalender Jawa merupakan paduan hasil sistem penanggalan Islam, Hindu, dan Julian dari budaya Barat. Maka dari itu, tidak heran jika sistem penanggalan ini cukup unik dan masih dilestarikan hingga sekarang. Nah, bagaimana sistem pembagian pekan di daerah Anda?

 

Exit mobile version