Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 [email protected]

WANDERING THE BEAUTY OF WEST KALIMANTAN

West Kalimantan is one of Indonesia’s provinces with various kinds of cultural and natural tourism destinations, which are full of local wisdom. Some parts have been touched by modernity but are still very exotic, beautiful, and attractive. The following are essentially cultural and biodiversity points in West Kalimantan that deserve to be known further.

Kapuas River

The Kapuas River is the longest in Indonesia with a length of about 1200 KM which upstream comes from the Müller Mountains in Kapuas Hulu and ends into the Karimata Strait in Pontianak. Its tributaries flow through tropical forests and become a haven for international researchers who study the diversity of its flora and fauna.

The Kapuas River is the lifeblood of the local community, which consists of various ethnic groups, including the Dayak, Malay, and Chinese Indonesian. You can do various activities on the river that has turned into this tourist destination. One of them by taking a boat to get around the river area.

Lake Sentarum

Sentarum is one of the National Parks in West Kalimantan, which is included in the list of the most important wetlands in the world. Sentarum is located in the Kapuas Hulu district with a total area of ​​132,000 hectares. The area around the lake is inhabited by the traditional Dayak community.

The best time to visit this place is during the rainy season because, in the dry season, the lake water will recede and form small ponds full of fish.

Betang House

Betang house or Rumah Panjang or Radakng House is a traditional house of the Dayak tribe who live by the river. It is a stilt house with about 2 meters and a length of about 100 meters. This house is inhabited by around twenty families.

The typical activities carried out by the women who live in the longhouse are mainly making typical Dayak tribe handicrafts, namely woven fabrics, beads, and wickerwork.

Bukit Kelam

Bukit Kelam is a landmark of Sintang Regency, one of the world’s unique hills. It is a giant monolith dome with a height of 1002 M. Around this hill, there are young forests with a diversity of endemic flora such as Nepenthes and black orchids.

According to a circulating legend, Bukit Kelam is a stone lifted by a Dayaknese named Bujang Beji who wanted to close the Malawi River with the Kapuas River to get most of its fish. But before reaching his destination, he fell and could not lift the dark stone anymore.

Gawai Dayak

Gawai Dayak is a post-harvest celebration held annually around May and June, including a series of traditional ceremonies as a form of gratitude to God for the abundance of the harvest.

The purpose of implementing Gawai Dayak is to maintain the integrity of the community of the Dayak Tribes, maintain identity, and foster personality as a Dayak tribe by recognizing and preserving the traditions of their ancestors.

This event is usually held at the Long House and is attended by all family members.

In Pontianak City, the Gawai Week Festival is held once a year at a replica of Radakng House. It is filled with various cultural activities, including cultural parades, exhibitions of cultural knick-knacks, Dayak song competitions, and traditional games.

Tatung parade

The Cap Go Meh celebration is held 15 days after the Chinese New Year. In Singkawang, every Cap Go Meh celebration is accompanied by a parade of Tatung dressed as Chinese gods, generals, warlords in black, yellow, red or green costumes. In the Hakka language, Tatung means a person who is possessed by an ancestral spirit or deity.

The spirit is summoned with a specific spell to enter a person’s body. The possessed person thrusts sharp objects into the body, usually with iron, nails, swords, and knives.

This tradition has been going on for more than 250 years. It started when the Chinese came all the way to Borneo to mine gold. However, there was a plague, and they believed it was caused by an evil spirit. Therefore, they began to invite good spirits to help them fight the evil spirits by performing rituals and prayers.

Gunung Palung

Gunung Palung National Park is located in North Kayong Regency and Ketapang Regency, covers ​​about 108,000 hectares and has the most complete ecosystem in Indonesia. This area has mountainous contours with a sharp elevation difference from 0 m above sea level (for Mangrove forest types) to 1,700 m above sea level (for highland or mountain forest types). In the middle of this area, there are two mountains, namely Mount Palung and Mount Panti. This national park is home to countless flora and fauna such as orangutans, proboscis monkeys, sun bears, clouded leopards, giant bats, and yellow-billed hornbills.

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai berbagai macam destinasi wisata budaya dan wisata alam yang sarat dengan kearifan lokal. Meskipun beberapa bagian telah tersentuh kemodernan, sebagian lainnya masih sangat eksotis, cantik, dan menarik untuk dikunjungi. Berikut adalah titik-titik budaya dan keanekaragaman hayati penting di Kalimantan Barat yang patut untuk dikenal lebih jauh.

Sungai Kapuas 

Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang sekitar 1200 KM yang hulunya berasal dari Pegunungan Müller, Kabupaten Kapuas Hulu dan bermuara di Selat Karimata, Kota Pontianak.

Anak-anak sungainya mengalir melewati hutan-hutan tropis dan menjadi surge bagi periset internasional yang meneliti keanekaragaman flora dan fauna.

Sungai Kapuas adalah urat nadi bagi masyarakat setempat, yang terdiri dari berbagai suku, di antaranya suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Anda dapat melakukan berbagai aktivitas di sungai yang telah berubah menjadi destinasi wisata ini. Salah satunya dengan menaiki perahu untuk berkeliling kawasan sungai.

Danau Sentarum

 Danau Sentarum merupakan salah satu Taman Nasional di Kalimantan Barat yang dimasukkan dalam daftar lahan basah terpenting di dunia. Danau Sentarum terletak di Kabupaten Kapuas Hulu dengan luas keseluruhan 132.000 Ha. Daerah di sekitar danau ini dihuni oleh masyarakat tradisional Dayak.    

Waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini yaitu pada saat musim hujan. Sebab, pada musim kering, air danau akan surut dan membentuk kolam-kolam kecil yang penuh ikan.

Rumah Betang 

Rumah Betang atau rumah Panjang atau disebut juga rumah Radakng adalah rumah tradisional suku Dayak yang tinggal di sekitar sungai. Rumah Panjang merupakan rumah panggung dengan ketinggian sekitar 2 meter dan panjang sekitar 100 meter. Rumah ini dihuni oleh dua puluhan keluarga.

Kegiatan umum yang dilakukan para perempuan penghuni rumah Panjang terutama adalah membuat kerajinan khas suku Dayak yaitu kain tenun, manik-manik, dan anyaman. 

Bukit Kelam

 Bukit Kelam merupakan landmark Kabupaten Sintang yang merupakan salah satu di antara bukit unik di dunia. Keunikan dari Bukit Kelam yaitu bukit ini hanya terdiri dari satu bongkah batu besar (monolit) dengan ketinggian 1.002 meter. Di sekitar bukit ini, terdapat hutan-hutan muda yang memiliki keanekaragaman flora endemik seperti kantung semar dan anggrek hitam.

Menurut legenda yang beredar, Bukit Kelam adalah batu yang diangkat oleh pemuda Dayak bernama Bujang Beji yang ingin menutup Sungai Melawi dengan Sungai Kapuas. 

Namun sayangnya, sebelum sampai ke tujuan, ia terjatuh dan tidak dapat mengangkat batu kelam lagi.

Gawai Dayak 

 Gawai Dayak adalah pelaksanaan perayaan pascapanen yang diadakan setiap tahun sekitar bulan Mei dan Juni. Perayaan ini meliputi serangkaian upacara adat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kelimpahan hasil panen. 

Tujuan dilaksanakannya Gawai Dayak yaitu untuk menjaga keutuhan kesatuan komunitas masyarakat suku Dayak, menjaga identitas, dan memupuk kepribadian sebagai suku Dayak dengan mengenal menjaga dan melestarikan tradisi dari nenek moyangnya.

Acara ini biasanya diadakan di rumah Panjang dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga.

Di Kota Pontianak, festival Pekan Gawai Dayak juga diadakan setahun sekali di replika Rumah Radakng Pontianak dan diisi dengan berbagai kegiatan budaya, antara lain pawai budaya, pameran pernak-pernik budaya, lomba lagu Dayak, dan permainan tradisional.

Parade Tatung

Perayaan Cap Go Meh diadakan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Di Singkawang, setiap perayaan Cap Go Meh disertai dengan Parade Tatung berpakaian seperti Dewa Cina, jenderal, panglima perang dengan kostum hitam, kuning, merah, atau hijau. Dalam bahasa Hakka, Tatung berarti orang yang dirasuki roh atau dewa leluhur.

Roh dipanggil dengan mantra tertentu untuk masuk ke tubuh seseorang. Orang yang kerasukan menusukkan benda tajam ke tubuhnya, biasanya dengan besi, paku, pedang, dan pisau.

Tradisi ini telah berlangsung selama lebih dari 250 tahun. Ini dimulai ketika orang Cina datang jauh-jauh ke Kalimantan untuk menambang emas. Namun, ada wabah dan mereka percaya itu disebabkan oleh roh jahat. Oleh karena itu, mereka mulai mengundang roh-roh baik untuk membantu mereka melawan roh-roh jahat dengan melakukan ritual dan doa.

Gunung Palung

Taman Nasional Gunung Palung terletak di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang dengan luas sekitar 108.000 hektar dan memiliki ekosistem terlengkap di Indonesia. Daerah ini memiliki kontur pegunungan dengan perbedaan ketinggian yang tajam dari 0 m di atas permukaan laut (untuk tipe hutan mangrove) hingga 1.700 m di atas permukaan laut (untuk tipe hutan dataran tinggi atau pegunungan). Di tengah kawasan ini, terdapat dua gunung yaitu Gunung Palung dan Gunung Panti. Taman nasional ini adalah rumah bagi flora dan fauna yang tak terhitung jumlahnya seperti orangutan, bekantan, beruang madu, macan dahan, kelelawar raksasa, dan rangkong paruh kuning.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: