Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Ketika Kawan Kawin

Perkawinan atau pernikahan seringkali menjadi simbol status sosial, khusus­nya acara resepsi pernikahannya. Semakin mewah pestanya, semakin tinggi status keluarga yang punya hajat. Semakin banyak tamu undangan yang datang, semakin tinggi status sosial mereka. Apalagi jika di antara tamu undangan itu ada seorang gubernur, menteri, atau presiden.

Tamu undangan seringkali akan berkomentar tentang tata rias yang dikenakan pasangan pengantin, menu makanan yang terhidang, situasi hiruk-pikuknya, dan seringkali tentang gosip: orang-orang tertentu yang bergandengan dengan pasangannya. Dalam menghadiri resepsi pernikahan, seseorang tidak akan menggandeng sembarang orang sebagai pasangannya.

Kalau bukan suami atau istri, pacarlah atau calon pacarlah yang seringkali digandeng seseorang dalam menghadiri resepsi pernikahan seorang kawan. Hal ini menjadi semacam pengakuan sosial kalau pacar atau calon pacar laki-laki atau perem­pu­an yang digandengnya itu kelak juga akan menjadi sepasang suami-istri seperti yang dilakukan si punya hajat. Bagi suami-istri, kedatangan mereka seringkali dijadikan indikasi kalau hubungan keluarga mereka masih baik-baik saja.

Jika seseorang datang ke resepsi pernikahan seorang diri atau tanpa pasangan, orang-orang akan bertanya-tanya: apakah keluarga mereka baik-baik saja selama ini? Apakah dia telah men-jomblo alias menjadi duda atau janda sekarang? Datang seorang diri juga sering mengindikasikan seseorang itu masing lajang. Kesendirian dalam acara-acara semacam ini bisa menjadi pergunjingan atau gosip.

Bagi kaum selebriti yang masih lajang, hadir dengan pasangan baru pun bisa menjadi bahan gosip media. Wow, ternyata artis Anu jadian dengan si Anu, padahal selama ini mereka tidak mengakui adanya hubungan spesial mereka. Hal ini juga bisa menjadi semacam publikasi terhadap keseriusan hubungan cinta. Orang yang tidak spesial tidak bakal digandeng menghadiri resepsi pernikahan.

Inilah problematika menghadiri resepsi pernikahan. Selain harus memikir­kan baju mana yang harus dipakai, kado macam apa yang bakal dihadiahkan, seringkali juga harus memikirkan pasangan mana (jika punya banyak atau lebih dari satu) yang harus ”dibawa”. Ini bisa menjadi persoalan tersendiri.

Menghadiri perkawinan seorang kawan bukanlah sekedar mengucapkan ”Selamat berbahagia” dan menikmati hidangan yang tersedia. Ada sebuah aturan main yang lebih bersifat sosial. Resepsi pernikahan adalah sebuah momen bagi orang-orang tertentu untuk mengekspresikan diri, baik bagi yang punya hajat maupun bagi para tamu.

Jika Anda akan menikah dengan orang Indonesia, tanyakan dulu ritual macam apa sajakah yang harus dilakukan, termasuk acara resepsinya. Terkadang acara-acara itu lebih merepotkan daripada ”acara malam pertama”.

Catatan: Menurut Mas Agung, nikah itu beda dengan kawin. Nikah pakai surat sementara kawin pakai urat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: