Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Selamat Tahun Baru 2021

We have just passed the New Year, we all hope for the best in welcoming 2021, especially because the year 2020 was a rollercoaster of problems and challenges. Of course we all hope that everything will be better this New Year.

Talking about new years, did you know that in Indonesia, we actually have 6 New Years? Broadly speaking, only 4 New Years are widely known and celebrated. The six New Years are as follows.

  1. The AD New Year or Gregorian which we use everyday widely.
  2. Hijriyah New Year or Islamic New Year which is celebrated by Muslims.
  3. Saka New Year which is generally celebrated by Hindus.
  4. Javanese New Year which is similar to the Hijriyah New Year.
  5. Chinese New Year which is celebrated by Chinese.
  6. Sundanese New Year, also known as Pabalu Sunda and is celebrated by the Sundanese.

Every New Year uses a different time calculation. Want to know more about each of these New Years? Have a look at the explanation below.

AD NEW YEAR/GREGORIAN

For the Gregorian calendar, New Year was first celebrated on January 1, 45 BC. Julius Caesar was the one who designed the New Year with the help of Sosigenes, an astronomer from Alexandria. The New Year is based on the revolution of the Sun. In it, there are a total of 365 days divided into 12 months. It is this New Year that is used widely throughout the world today.

HIJRYAH NEW YEAR

This is calender system which determines the date or month related to worship and other important days of Muslims. It is called the Hijriyah Calendar because in the first year of this calendar the Prophet Muhammad’s migrating from Mecca to Medina occurred, which was in 622 AD. The Islamic calendar uses the lunar cycle as its reference. In some countries with a majority Muslim population, the Hijriyah calendar is also used as a daily calendar system.

SAKA NEW YEAR

The Saka calendar, sometimes called the Shalivahana Shaka calendar is a calendar that originated in India. Using the calculations of the Sun and Moon, the Saka New Year falls on the 1st of the month of Caitramasa (around the beginning of March of the Gregorian calendar) and is believed to be the day of purification of the gods at the center of the ocean, these gods are believed to bring holy water named Amerta. Just like the AD New Year and Hijryah, the Saka New Year is divided into 12 months.

JAVANESE NEW YEAR

It is a calendar system which is used by the Mataram Sultanate and its various kingdoms. The Javanese calendar system uses two day cycles: a weekly cycle consisting of seven days (Sunday to Saturday, saptawara) and the Pancawara week cycle consisting of five market days. In 1633 AD (1555 Saka), Sultan Agung of Mataram tried to instill Islam in Java. One of the efforts is to replace the Saka calendar based on the sun with the Hijriyah calendar system which is based on the lunar cycle. Uniquely, the Saka year calender are still used, not using calculations from the Hijryah year. This was done for the sake of sustainability, so that the current year which was 1555 Saka was continued into 1555 Java.

CHINESE NEW YEAR

The Chinese calendar is a lunisolar calendar formed by combining the lunar calendar and the solar calendar. The Chinese calendar began to be developed in the third millennium BC. It is said that this calendar was invented by the first legendary ruler, Huáng Dì, who ruled between 2698 BC-2599 BC, and was further developed by the legendary fourth ruler, Emperor Yáo. Like the Javanese calendar, it is still used to commemorate various days of traditional Chinese celebrations and to select the most auspicious day for a wedding or business opening.

SUNDANESE NEW YEAR

Pabalu Sunda is based on the Sundanese calendar and is celebrated by the traditional Sundanese people of Indonesia. The Sundanese calendar has a system of days, weeks, and months which is almost the same as the AD calendar, but what sets it apart is the name. The Sundanese New Year falls on 1 Suklapaksa, Kartika month or around the last August month in the AD calendar. This Sundanese new year celebration is rarely heard, but lately there have been many efforts to preserve Sundanese culture, one of which is by celebrating the Sundanese new year.

 

Those are some of the New Years that are known and celebrated in Indonesia. Our country is indeed very rich in cultural diversity. Hopefully this diversity will make us feel more grateful and encouraged, because in fact differences are not to be questioned, but to be enjoyed.

Happy New Year 2021 from Wisma Bahasa, may this year brings more goodness and happiness to all of us.

The article above is extracted and adapted from Wikipedia and IDNtimes.

Tahun baru 2021 baru saja kita jelang, segala harapan baik dilantukan untuk menyambutnya, terutama karena tahun 2020 yang baru saja kita tinggalkan cukup sarat dengan permasalahan dan tantangan. Tentu kita semua berharap keadaan yang lebih baik akan kita temui di tahun yang baru ini.

Berbicara tentang tahun baru, tahukah Anda bahwa di Indonesia sendiri kita sebenarnya mempunyai 6 Tahun Baru? Secara luas, hanya 4 Tahun Baru yang  dikenal dan dirayakan secara luas. Keenam Tahun Baru itu yaitu sebagai berikut.

  1. Tahun Baru Masehi atau Gregorian yang kita gunakan sehari-hari secara luas.
  2. Tahun Baru Hijriyah atau Tahun Baru Islam yang dirayakan oleh umat muslim.
  3. Tahun Baru Saka yang umumnya dirayakan oleh umat agama Hindu.
  4. Tahun Baru Jawa yang mirip Tahun Baru Hijriah.
  5. Tahun Baru Imlek yang  dirayakan oleh suku Tionghoa.
  6. Tahun Baru Sunda yang dikenal juga sebagai Pabalu Sunda dan dirayakan oleh suku Sunda.

Setiap Tahun Baru menggunakan perhitungan waktu yang berbeda-beda. Mau tahu lebih banyak tentang masing-masing Tahun Baru ini? Yuk, kita lihat penjelasan di bawah ini

TAHUN BARU MASEHI

Untuk penanggalan Masehi, Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Julius Caesar-lah yag mendesain Tahun Baru ini dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah. Tahun Baru Masehi dibuat berdasarkan revolusi Matahari. Di dalamnya, terdapat total 365 hari yang terbagi menjadi 12 bulan. Tahun Baru inilah yang digunakan secara luas di seluruh dunia saat ini.

TAHUN BARU HIJRIAH

Merupakan penentuan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah dan hari-hari penting lain umat Islam. Kalender ini dinamakan dengan Kalender Hijriah karena pada tahun pertama kalender ini terjadi peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari

TAHUN BARU SAKA

Kalender Saka, kadang-kadang disebut kalender Shalivahana Shaka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Menggunakan perhitungan Matahari dan Bulan, Tahun baru Saka jatuh pada tanggal 1 bulan Caitramasa (sekitar awal bulan Maret kalender Masehi) dan dipercaya sebagai hari penyucian para dewa di pusat samudra, para dewa ini dipercaya membawa air suci bernama Amerta. Sama seperti Tahun Baru Masehi dan Hijriah, Tahun Baru Saka terbagi dalam 12 bulan

TAHUN BARU JAWA

Adalah sistem penanggalan yang adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya. Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad sampai Sabtu, saptawara) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha menanamkan Islam di Jawa. Salah satu upayanya adalah mengganti penanggalan Saka yang berbasis matahari dengan sistem kalender Hijriah yang berbasis putaran bulan. Uniknya, angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriah. Hal ini dilakukan demi kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1555 Saka diteruskan menjadi tahun 1555 Jawa.

TAHUN BARU IMLEK

Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari. Kalender Tionghoa mulai dikembangkan pada milenium ketiga SM. Konon, kalender ini ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698 SM2599 SM, dan dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris keempat, Kaisar Yáo. Seperti halnya kalender Jawa, masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha.

TAHUN BARU SUNDA

Pabalu Sunda dibuat berdasarkan kalender Sunda dan dirayakan oleh masyarakat tradisional Sunda di Indonesia. Kalender Sunda memiliki sistem hari, minggu, dan bulan yang hampir sama dengan kalender Masehi, tetapi yang membedakannya adalah penamaannya. Tahun baru Sunda jatuh pada 1 Suklapaksa, bulan Kartika atau berkisar pada bulan agustus akhir di kalender Masehi. Perayaan tahun baru Sunda ini memang jarang terdengar, tetapi belakangan mulai banyak usaha untuk melestarikan budaya Sunda ini, salah satunya dengan merayakan tahun baru Sunda.

Itulah beberapa Tahun Baru yang dikenal dan dirayakan di Indonesia. Negara kita memang sangatlah kaya dengan ragam budaya. Semoga keragaman ini akan membuat kita merasalebih bersyukur dan berbesar hati, karena sesungguhnya perbedaan bukan untuk dipersoalkan, tetapi untuk dinikmati keanekaragamannya.

Kami keluarga besar Wisma Bahasa mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021, semoga tahun 2021 ini membawa lebih banyak kebaikan dan kebahagiaan untuk kita semua.

Artikel diatas disarikan dan dikembangkan dari Wikipedia dan IDNtimes

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: