Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 852 2717 9797 / +62 274 520341 [email protected]

Tradisi Unik Menyambut Bulan Suci Ramadan di Indonesia

Puasa Ramadan adalah salah satu ibadah penting bagi umat Islam. Tak heran bila bulan suci Ramadan disambut dengan kebahagiaan karena umat Islam percaya bahwa bulan ini membawa banyak berkah dan ampunan. Umat Islam di berbagai daerah di Indonesia menyambut kedatangan bulan ini dengan mengadakan bermacam aktivitas sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan untuk “ Amnesti” yang diberikan Tuhan kepada mereka. Aktivitas ini dilakukan turun-temurun dan perlahan berubah menjadi tradisi masyarakat setempat. Berikut adalah beberapa tradisi yang unik dan menarik untuk disimak dari berbagai daerah di Indonesia.

  • Tradisi Meugang dari Aceh

Tradisi Meugang adalah tradisi menyambut kedatangan Ramadan yang berawal dari masa Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Pada saat itu Sultan ingin mewujudkan rasa syukurnya dan berbagi kebahagiaan menyambut Ramadan dengan rakyatnya. Tradisi Meugang sendiri dilaksanakan sehari sebelum memasuki bulan Ramadan. Pada saat itu masyarakat menyembelih sapi atau kambing dan memasak dagingnya di rumah, untuk kemudian memakannya bersama kerabat dan sahabat serta membawanya ke panti asuhan untuk dibagikan kepada anak-anak yatim dan masyarakat yang kurang mampu. Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang.

  • Tradisi Balimau Kasai dari Minangkabau

Balimau Kasai  adalah tradisi menyambut Ramadan yang juga dilaksanakan sehari sebelum Ramadan. “Balimau” berarti mandi menggunakan limau dan “kasai” berarti membersihkan diri. Pada zaman dahulu masyarakat Minang melakukan Balimau Kasai semata-mata untuk  meyucikan diri menyambut bulan suci Ramadan. Namun kini, seiring perkembangan zaman, momen ini berkembang menjadi acara untuk pergi mengunjungi tempat wisata, terutama yang menyediakan tempat-tempat pemandian.

  • Tradisi Munggahan dari Jawa Barat

Tradisi Munggahan berasal dari kata bahasa Sunda  “unggah” yang berarti naik. Maknanya adalah naik menjadi pribadi dengan tingkatan yang lebih baik atau lebih tinggi derajatnya setelah memasuki bulan suci Ramadan. Tradisi Munggahan sudah berlangsung sejak Islam masuk ke tanah Sunda dan dilakukan pada bulan Syakban, sehari atau dua hari sebelum Ramadan. Biasanya masyarakat  melakukan Munggahan dengan berbagai cara mulai dari berkumpul bersama keluarga, botram atau makan bersama, berdoa, dan berziarah ke makam orang tua atau ulama. Tradisi Munggahan juga sering digunakan sebagai sarana silaturahmi dan saling memaafkan sebelum memulai puasa Ramadan.

  • Tradisi Apeman dari Yogyakarta

Tradisi Apeman di Yogyakarta dimulai dengan pembuatan kue apem oleh keluarga Keraton Yogyakarta. Prosesnya diawali dengan membuat adonan atau “ngebluk jladren” kemudian dilanjutkan dengan “ngapem”. Proses ini dipimpin langsung oleh Permaisuri Sultan.

Mengapa kue yang dipilih adalah kue apem dari sekian banyak kue-kue lezat tradisional lainnya? Ada sejarah yang mengungkapkan mengapa apem terpilih sebagai simbol dari acara penting ini. Apem berasal dari kata ampun, yang artinya memohon maaf. Masyarakat Yogyakarta memohon ampun kepada Tuhan untuk semua kesalahan sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Masyarakat Yogyakarta sendiri sangat menghormati tradisi ini dan bergotong royong membuat kue apem yang akan dibagikan dan dimakan bersama-sama setelah dibacakan doa.

  • Tradisi Megibung dari Bali

Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem, I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Saat itu Kerajaan Karangasem memenangkan perang melawan Kerajaan Sasak di Lombok. Megibung adalah kegiatan makan bersama yang popular tidak hanya di kalangan umat Hindu tapi juga umat Islam Bali. Megibung kini bukan saja dilakukan untuk upacara adat, tetapi juga acara selamatan, menyambut tahun baru, Maulid Nabi Muhammad SAW, atau menyambut Ramadan. Umat Islam Bali terutama di daerah Karangasem biasanya makan bersama keluarga besar untuk menyambut Ramadan dengan menu antara lain ayam bakar, sate lilit khas Bali, ikan asin, nasi putih, sambal terasi, lengkap dengan sayur, tahu, dan tempe.

  •  Tradisi Sura Maca dari Makassar

Tradisi Sura Maca adalah kegiatan menyambut Ramadan yang diselenggarakan masyarakat Bugis Makassar. Kegiatan ini berupa membaca doa bersama-sama untuk dikirimkan kepada para leluhur. Tradisi Sura Maca berlangsung selama sepekan sebelum Ramadan. Selama acara berlangsung tak lupa disuguhkan pula masakan olahan masyarakat Bugis seperti sukko ugi, umba-umba, ayam goreng tumis, dan lain-lain. Pelaksanaan doa biasanya dipimpin oleh Sanro atau tokoh masyarakat setempat.

Itulah beberapa tradisi menyambut bulan Ramadan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tentu masih lebih banyak ragam tradisi dari berbagai daerah lain atau negara lain selain di Indonesia. Adakah tradisi sejenis yang berasal dari negara Anda? *Isi artikel disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.