Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Dulmatin, Lahir di Pemalang Tewas di Pamulang

Minggu lalu Densus 88 berhasil menembak mati salah satu gembong teroris di Indonesia, yaitu Dulmatin. Dia atau sejumlah nama alias lain adalah nama dari Joko Pitono. Dia tokoh yang dicari-cari oleh tidak hanya kepolisian Indonesia, tetapi juga Philipina, bahkan Amerika Serikat. AS bahkan menjanjikan hadiah sekitar Rp 90 milyar jika ada yang bisa menangkapnya, hidup atau mati.

Namanya dikenal luas sejak keterlibatannya dalam bom Bali I (12/10/2002) dan sejumlah aksi bom lainnya di Indonesia. Dia ditengarai lebih ahli dalam merakit bom dibanding Dr Azahari sendiri. Dulmatin beberapa kali disebut sejumlah media telah tewas sebelumnya, tetapi beberapa kali pula kebenaran berita itu terbantahkan. Baru pada Rabu, 10/3/2010, Kapolri secara resmi menyebut korban tewas dalam penyergapan Densus 88 di sebuah warnet di Pamulang, Bekasi, Banten sehari sebelumnya itu sebagai Dulmatin, setelah diuji DNA-nya.

Dulmatin lahir di Pemalang (tepatnya di Petarukan) Jawa Tengah dan tewas di Pamulang (wilayah Bekasi, Propinsi Banten). Orang bisa keliru dengan dua nama ini. Dan saya salah seorang yang memiliki afinitas dengan Pemalang, apalagi Petarukan. Di kecamatan inilah saya dan Dulmatin lahir dalam rentang tahun yang hampir sama. Berita tentang Dulmatin kemudian mengingatkan kembali memori saya terhadap kawasan Pantura (pantai utara) Jawa itu. Setidaknya ada afinitas terhadap dirinya meskipun tidak menyetujui jalan pemikiran dan tindakannya.

Pada tahun 1990-an saya pernah ditanya oleh seorang mahasiswa baru asal Papua tentang asal usul saya. “Saya dari Pemalang.” Tetapi reaksinya, “Oh, Surabaya ke selatan itu?” Saya tahu dia keliru. Pikirnya Malang, kota yang lebih besar dari Pemalang dan jauh lebih dikenal orang.

Ada sejumlah nama kota yang mirip seperti antara Malang—Pemalang—Pamulang. Orang-orang sering keliru antara kota Purbalingga dengan Probolinggo, antara Purwakarta dengan Purwokerto, antara Surakarta dengan Kartasura, atau antara Banjar–Banjarnegara—Banjarmasin. Bahkan kadang-kadang ada yang keliru antara kota di Indonesia dengan negara asing seperti Solo dengan Oslo, Dumai dengan Dubai, atau antara Malino dengan Milano. Banyak kemiripan. Kota asal mengingatkan kita pada kata “kampung halaman” yang saya tidak tahu persis terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Saya sendiri bingung mengapa nama-nama kota atau wilayah di Amerika banyak yang terkait dengan kata-kata dalam bahasa Arab. Di sana ada kota-kota yang bernama Mecca, Medina, Alhambra, Andalusia, Aladdin, Albani, Almansor, Salem, Mahomet, dan sejumlah nama lainnya. Bahkan dua nama negara seperti Jamaika dan Kuba juga memiliki kaitan dengan kata-kata Arab. Benarkah telah terjadi kontak dengan dunia Araba sebelum datangnya Columbus sehingga ada beberapa kemiripan kata?

Jika Dulmatin tidak lahir di Pemalang, saya tidak begitu peduli. Tempat itulah yang setidaknya menyatukan sejenak perhatian saya terhadapnya. Memori saya sekilas menerawang apakah sempat dalam sebuah momen bertemu dengan Joko Pitono? Mungkin sekali tidak.

Itulah afinitas. Saya teringat berita di internet beberapa minggu lalu yang mengisahkan Hitler meninggal di Surabaya, 15 Januari 1970 pukul 19.30 di RS Karang Menjangan dan dimakamkan di daerah Ngagel. Hitler menyaru sebagai dr. Poch. Entah mengapa saya berharap berita ini benar adanya, meski tanpa harus membela atau bersimpati pada sepak terjangnya.

Adakah guru Wisma Bahasa yang berasal dari Pemalang atau Pamulang?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: