Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Batik dan Seni Tubuh

Batik merupakan salah satu karya seni Indonesia yang khas. Hal ini dikukuhkan oleh UNESCO. Proses pembuatannya seakan terbalik dengan proses pembuatan seni lukis. Jika seni lukis sang artis mengguratkan cat ke kanvas, membatik sebaliknya, malah menutup gambar-gambar pola dengan malam bermediakan canting yang nantinya akan membentuk warna gambar. Batik hampir identik dengan pakaian asli Indonesia, sejajar dengan sari untuk orang India, atau kimono bagi orang Jepang.

Baju batik biasa dipakai oleh kaum lelaki untuk acara pesta pernikahan. Sementara kain batik yang dipakai para wanita dengan kebaya biasanya dipakai ketika ada acara khusus, tidak selalu untuk pernikahan. Bahkan pemda-pemda tertentu atau instansi-instansi tertentu sering mewajibkan karyawannya untuk mengenakan baju batik pada hari-hari tertentu sebagai seragam. Pada masa Orde Baru, pemerintah mewajibkan PNS (Pegawai Negere Sipil) untuk memakai batik Korpri.

Di lain pihak, para turis malah lebih banyak membeli lukisan batik untuk souvenir. Mereka membeli baju batik juga untuk keperluan acara tertentu di Indonesia jika mereka menjadi ekspatriat. Negarawan mancanegara yang sering pakai baju batik adalah Nelson Mandela.

Sebenarnya teknik membatik tidak hanya dipergu¬nakan pada kain tetapi juga pada media kayu. Secara garis besar tekniknya dibedakan menjadi batik tulis (dengan tangan) dan batik cap. Modelnya atau motifnya sangat beragam, mulai dari motif-motif yang sudah mapan dan klasik hingga motif-motif kontemporer yang sering mengedepankan aspek seninya. Bahan pewarna batik pun banyak ragamnya, mulai dari bahan-bahan alami hingga bahan-bahan sintesis.

Harga batik pun beragam, biasanya tergantung pada bahan dasarnya (kain), motifnya, pengerjaannya, dan faktor lainnya. Harga baju batik bisa mulai dari belas ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah sehelai. Orang Indonesia memanfaatkan batik seringkali tidak hanya sebagai pakaian untuk kepentingan tertentu tetapi juga sebagai penunjuk identitas atau bahkan penunjuk status sosial. Bahkan ada orang yang mengoleksi batik, mirip seperti orang mengoleksi lukisan. Ibunda Barack Obama, termasuk salah seorang kolektor batik.

Orang Jawa sering mengatakan bahwa status seseorang tergantung dari apa yang dikenakannya. Oleh karena itu, baju batik bisa menjadi penanda kelas seseorang. Persisnya, peribahasa itu berbunyi, “Ajining dhiri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana (tingkat status pribadi seseorang tergantung pada kata-katanya sedangkan tingkat status jasmaniah seseorang tergantung atas apa yang dipakainya).” Selain ucapan, busana termasuk aspek berikutnya yang patut dijaga seseorang dalam berinteraksi sosial. Itulah pentingnya baju batik bagi orang Jawa (atau Indonesia), juga pakaian dalam konteks yang lebih luas.

Dalam sebuah baju atau dalam berpakaian berlangsung sebuah proses strukturasi nilai-nilai. Nilai-nilai itu tidak hanya sekedar pembentukan sebuah identitas tetapi seringkali berupa internalisasi dan proses hegemonik dari suatu kelompok penguasa (dominan).

Aturan-aturan berupa penyeragaman terhadap apa yang dipakai seseorang seringkali tidak disadari sebagai bentuk operasi kekuasaan. Di sana ada suatu kontrol yang hendak dijalankan oleh pemegang otoritas untuk mendapat¬kan kepatuhan para pegawainya atau karyawannya. Awalnya berupa kepatuhan dalam berpakaian selanjutkan akan diperoleh kepatuhan pada aspek lainnya yang berlanjut pada “dukungan” terhadap kelompok penguasa yang bersifat hegemonik. Kontrol semacam ini bersifat panoptikon (ciptaan Belamy Bentham) sebagaimana dikemukakan oleh Michel Foucault.

Dalam proses kekuasaan, selain ada upaya mendapatkan dukungan yang bersifat hegemonik selalu muncul sikap resistensi atau penolakan terhadapnya. Pembangkangan terhadap pakaian seragam termasuk salah satu bentuk resistensi itu. Sikap menentang arus kuasa adalah bentuk konter-hegemonik. Bentuk-bentuk itu tidak selalu diwujudkan dalam kata-kata penentangan tetapi bisa diwujudkan dalam berbagai penanda termasuk sejumlah simbol. Salah satu media pembangkangan itu adalah tubuh.

Tato atau tindik tubuh (body piercing) awalnya adalah sebuah simbol kedewasaan atau kejayaan seseorang bagi suatu komunitas tertentu. Tato atau tindik seringkali menjadi penanda inisiasi suku. Akan tetapi, kini para remaja mempergunakan tato atau tindik sebagai tindakan pembangkangan, tidak mau tunduk terhadap aturan orang tua. Seringkali tato atau tindik di tubuh para remaja itu tertutup oleh baju yang dikenakan, lokasinya tersembunyi di bagian tubuh tertentu, yang tidak mudah diketahui oleh orang tuanya. Pembangkangan semacam ini tidak frontal.

Indonesia juga memilih khasanah seni tato dan tindik tubuh yang cukup kaya. Orang-orang Mentawai atau Dayak memiliki seni tato yang sangat tua sebagaimana orang-orang di belahan dunia lain mulai dari daratan Afrika hingga di kepulauan Selandia Baru. Seni tindik tubuh banyak dijumpai di Papua. Dalam perjalanan sejarahnya, tato dan tindik memiliki makna-makna tertentu. Kini anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok punk memanfaatkan seni tato dan tindik tubuh sebagai ekspresi mereka, sebuah eksklusivitas sebagai bentuk penentangan terhadap kelompok kemapanan.

Note: Kalau Anda ingin belajar cara membatik, silakan datang dan belajar di Wisma Bahasa.

2 thoughts on “Batik dan Seni Tubuh”

  1. It could be a very useful little bit of information. I am just pleased that you contributed this convenient information and facts along with us. Make sure you stop us up to par in this way. Appreciation for sharing.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: