Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 561627 / +62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Ke Bangkok! Cerita tentang Thailand, visa-visa baru, dan bir Lao

Minggu lalu, saya mengunjungi Bangkok. Saya harus meninggalkan Indonesia. Alasannya apa? Saya perlu visa baru. Saya datang di Indonesia baru pada satu bulan yang lalu dan visa saya adalah hanya untuk tiga puluh hari. Karena harga bensin naik baru-baru ini, tempat-tempat yang lebih murah untuk mengunjungi adalah kota Singapura dan kota Bangkok.

Saya memutuskan bahwa bahwa mengunjungi Bangkok adalah tidak begitu jelek untuk liburan saya. Saya akan bertemu dengan teman-teman saya yang bekerja sebagai sutradara-sutradara di Thailand juga. Mudah-mudahan, saya akan membeli banyak buku-buku di bidang film Thailand di sana. Industri film di Thailand jauh lebih besar daripada Singapura. Film-film Thailand adalah terkenal baik dan popular di lur negara Thailand, khususnya di Barat. Mungkin karena orang barat suka hal aneh-aneh atau berbeda atau mungkin mereka pikir bahwa cerita-cerita dari Thailand selalu bercerita tentang seks. Saya belum pasti. Saya tidak tahu. Tapi, tidak apa-apa. Pertanyaan untuk saya adalah bagaimana menerima visa baru. Saya pergi ke Bangkok membeli beberapa buku-buku tentang film Thailand dan kembali ke Indonesia kira-kira tiga hari kemudian.

Saya berpesawat ke Bangkok haru Jumat yang lalu. Saya naik pesawat Air Asia. Pramugari-pramugari yang bekerja untuk Air Asia adalah selalu cantik, selalu muda, selalu punya senyum-senyum yang bagus dan lebar. Saya suka sekali pakaian seragam mereka, khususnya jas-jas mereka ini berwarna merah dan punya lengan baju yang pendek. Lucu.

Di Bangkok, saya bertemu dengan teman saya bernama Yongyoot Thongkongtoon. Yongyoot membuat film Thailand berjudul Metroseksual. Saya juga pergi ke berpuluh-puluh toko buku dan membeli banyak buku-buku -dalam bahasa Inggris dan bahasa Thai- tentang film. Saya juga bertemu dengan teman-teman saya yang sekarang belajar di kota Solo. Deanna dan Phil juga perlu visa-visa baru. Kami bertemu. Kami bicara dan berdiskusi dan kami minum bir Lao. Bir Lao berasal dari negara Lao, tentu saja, dan terbuat dari biji padi yang berasal dari Eropa dan nasi yang berasal dari Laos. Bir Lao punya rasa yang kental, berat, dan kuat. Tidak sedikit lebih kuat daripada Guiness, tetapi seperti Guiness. Saya harus pergi ke bandara langsung, ketika teman-teman saya masih minum. Pesawat saya berangkat jam tiga pagi dan saya harus kembali. Saya harus kembali ke Indonesia. Ke Jogja. Ke Wisma Bahasa. ***  (by: Christian Razukas; Level : Advanced)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.