Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Let’s Get to Know 7 Indonesian Batik Patterns and their Philosophical Meanings

Do you like batik for the unique pattern of their designs?

As an original Indonesian cultural heritage, batik is not only unique, beautiful, and attractive, but also has a deep philosophical meaning. Apart from being appreciated domestically, batik has become a culture that is popularly recognized internationally. This was inaugurated by the recognition of the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). On October 2, 2009, UNESCO designated batik as one of the Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity.

Batik is the art of drawing on fabric which was originally used for clothing. The art of making batik is also one of the ancient kings family cultures in Indonesia. There are various types of batik in Indonesia, according to different origins and the special coloring characteristics.

This pattern that is depicted has its own meaning. In the past, this kind of batik pattern was used to describe social status. Some patterns may only be used by aristocrats or royal families. Until now, this tradition still exists, especially in a number of palaces in Indonesia.

To get to know more on batik, you need to understand the various batik patterns that exist and their philosophical meanings. Check out the overviews.

  1. Batik Parang

Batik Parang pattern is one of the classic batik patterns that are widely used. Shaped like waves, this pattern has the meaning of a struggle in life, which resembles the sea waves hitting a reef.

People who use this batik motif are expected to continue to struggle and never give up in facing life’s challenges.

Batik Parang has 6 types of patterns, namely Parang Rusak, Parang Barong, Parang Kusumo, Parang Kecil, Parang Slobog, and Parang Klitik. This pattern has its own peculiarities, especially the Parang Barong pattern, which can only be used by the royal family.

  1. Batik Sekar Jagad

Beside Batik Parang pattern, the Sekar Jagad batik pattern was also usually used by the royal communities. This batik comes from the city of Solo and Yogyakarta. The word Sekar Jagad, supposedly comes from the word “Kar” which in Dutch means map and “Jagad” in Javanese means the world. Thus, this motif symbolizes cultural diversity in Indonesia and around the world.

3. Batik Mega Mendung

This batik pattern comes from the city of Cirebon. Its shape resembles clouds. Although the name means dark cloud, this pattern does not mean sadness. On the other hand, this type of batik means patience, not emotional or calm, and being careful in solving a problem.

In addition, the Mega Mendung pattern has seven color gradations, which symbolize the seven layers in the sky.

  1. Batik Sidomukti

You will often see Batik Sidomukti style at important Javanese traditional events such as weddings or inaugurations, especially in Yogyakarta and Solo. The main characteristic of this batik is the coloring process that uses natural ingredients, that is soybean. The soga or brown color in Batik Sidomukti is the original and ancient classic batik color.

As the name implies, Sidomukti comes from the word “sido” which means to be, become, or to continue, and “mukti” means noble and prosperous. Therefore, using this batik pattern is also a symbol of prayer and hope that people who wear it will get continuous glory and prosperity.

  1. Batik Sidoluhur

This batik pattern is close to Sidomukti. Indonesian Sidoluhur batik pattern is generally used by the bride at the wedding night. Literally, the word “sido” in Javanese means to be or to become, and “noble” means honor and dignity.

Using Batik Sidoluhur pattern for the wedding ceremony, is also a form of prayer and hope that the bride will always be healthy and become a person of honor and dignity.

  1. Batik Kawung

One of the oldest patterns of batik in Indonesia is Batik Kawung. Shaped like neatly arranged sugar palm fruit. This batik symbolizes humans who always remember their origins. In addition, the Kawung pattern also symbolizes one’s ability to control lust, maintain balance in behavior, courage and justice. Therefore, in ancient times, many leaders used batik with this pattern.

  1. Batik Truntum

For those of you who are romanticists, Batik Truntum pattern is a great choice. This pattern has a deep meaning because it symbolizes love that grows back. Mainly focused on floral patterns, this type of batik means to keep love growing, it must be continuously cared for, like watered flowers so that they don’t wither with time.

Anda menyukai batik karena corak unik dari desainnya? Sebagai warisan budaya asli Indonesia, batik tak hanya unik, cantik, dan menarik, namun juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Selain dicintai di dalam negeri, batik telah menjadi bagian dari budaya yang diakui oleh dunia internasional. Hal ini diresmikan dengan adanya pengakuan dari Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO). Pada 2 Oktober 2009 lalu, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity).

Batik adalah seni menggambar di atas kain yang awalnya digunakan untuk pakaian. Seni membatik juga menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Ada beragam jenis batik di Indonesia, baik sesuai daerah asal maupun dari ciri khusus pewarnaannya.

Motif yang dilukiskan juga memiliki makna tersendiri. Dulu, motif batik digunakan untuk menggambarkan status sosial. Beberapa motif hanya boleh digunakan oleh kaum bangsawan atau keluarga kerajaan. Hingga saat ini, tradisi ini masih dihidupi, terutama di sejumlah keraton di Indonesia.

Untuk mengenal batik secara lebih mendalam, Anda perlu memahami beragam motif batik yang ada beserta makna filosofisnya. Berikut ulasannya.

  1. Batik Parang

Motif batik parang adalah salah satu motif batik klasik yang banyak digunakan. Berbentuk seperti ombak, motif ini memiliki makna perjuangan dalam kehidupan, yang diibaratkan ombak laut yang menghantam karang.

Orang yang menggunakan motif batik ini diharapkan dapat terus berjuang dan pantang menyerah menghadapi tantangan kehidupan.

Batik Parang memiliki 6 jenis corak yakni parang rusak, parang barong, parang kusumo, parang kecil, parang slobog, dan parang klitik. Corak ini memiliki kekhasan tersendiri, khususnya pada motif parang barong, yang hanya boleh digunakan oleh keluarga raja.

  1. Batik Sekar Jagad

Selain motif parang, motif batik sekar jagad juga biasanya digunakan oleh kalangan kerajaan. Batik ini berasal dari Kota Solo dan Yogyakarta. Kata sekar jagad, konon berasal dari kata “kar” yang dalam bahasa Belanda berarti peta dan “jagad” yang dalam bahasa Jawa berarti dunia. Dengan demikian, motif ini melambangkan keberagaman budaya di Indonesia dan di seluruh dunia. 

 

 

  1. Batik Mega Mendung

Motif batik asal Kota Cirebon ini, memiliki ciri khas bentuk menyerupai awan. Meski namanya berarti awan yang gelap, motif ini tidak berarti kesedihan. Sebaliknya, batik jenis ini memiliki makna kesabaran, tidak gampang marah, dan berhati-hati dalam menyelesaikan suatu masalah.

Selain itu, motif mega mendung memiliki tujuh gradasi warna, yang melambangkan tujuh lapisan yang ada di langit.

 

  1. Batik Sidomukti

Corak batik sidomukti akan sering Anda lihat pada acara-acara adat Jawa yang penting seperti pernikahan atau pelantikan, terutama di Yogyakarta dan Solo. Ciri utama dari batik ini adalah proses pewarnaannya yang menggunakan bahan alami yaitu soga. Warna soga atau cokelat pada batik sidomukti merupakan warna batik klasik yang asli dan kuno.

Sesuai dengan namanya, sidomukti berasal dari kata “sido” yang berarti jadi, menjadi, atau terus menerus, dan “mukti” yang berarti mulia dan sejahtera. Karena itu, menggunakan jenis batik ini juga merupakan lambang doa dan harapan agar orang yang memakainya akan mendapatkan kemuliaan dan kesejahteraan yang terus menerus.

  1. Batik Sidoluhur

Motif batik yang dekat dengan sidomukti adalah sidoluhur. Motif ini umumnya dipakai oleh pengantin wanita pada saat malam pengantin. Secara harfiah, kata “sido” dalam bahasa Jawa berarti jadi atau menjadi, dan “luhur” berarti terhormat dan bermartabat.

Menggunakan motif batik sidoluhur untuk pengantin, juga merupakan bentuk doa dan harapan agar sang pengantin selalu sehat dan menjadi orang yang terhormat dan bermartabat.

 

  1. Batik Kawung

Salah satu jenis batik tertua di Indonesia adalah batik dengan motif kawung. Berbentuk seperti buah kolang-kaling yang disusun rapi, batik ini melambangkan agar manusia selalu ingat pada asal usulnya. Selain itu, motif Kawung juga melambangkan kemampuan diri untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga keseimbangan perilaku, keperkasaan dan keadilan. Karena itu, pada zaman dulu, banyak pemimpin menggunakan batik dengan motif ini.

 

  1. Batik Truntum

Bagi Anda yang berjiwa romantis, batik dengan motif truntum adalah pilihan yang cocok. Motif ini memiliki makna yang mendalam karena melambangkan cinta yang tumbuh bersemi kembali. Berfokus utama pada motif bunga, jenis batik ini memiliki makna bahwa untuk menjaga cinta tetap tumbuh, maka ia harus terus menerus dirawat, layaknya bunga yang disirami agar tidak cepat layu.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: