Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Pelancong

Orang Indonesia tidak banyak menggunakan kata pelancong dibandingkan orang Malaysia.  Orang Indonesia lebih sering menggunakan kata turis, serapan dari bahasa Inggris. Turis dibedakan menjadi dua: turis domestik (yang beasal dari dalam negeri) dan wisatawan mancanegara yang disingkat menjadi wisman (yang berasal dari luar negeri).

Dalam bahasa Indonesia, kata kerja dari kata turis tidak ada, yang muncul adalah berwisata. Dalam bahasa Melayu Malaysia, kata kerjanya menjadi melancong. Kementeriannya menjadi Kementerian Pariwisata (bukan Departemen Pelancongan).

Orang Indonesia suka berwisata ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya (termasuk makam-makam tertentu), terutama ke luar negeri. Sudah menjadi kebiasaan manusia yang merasa bahwa semakin jauh daerah wisata yang bakal dikunjungi, semakin eksotis. Orang Indonesia bisa jadi tidak merasa bangga pergi ke Pantai Kuta di Bali, tapi dia akan bangga dengan menyebut pengala­man­nya mengunjungi Museum Louvre di Paris, melihat salju di atas Alphen dari dalam pesawat, atau naik shinkansen di Tokyo.

Sebaliknya, Bali bagi orang-orang luar Indonesia merupakan paradiso (bukan heaven) yang selalu mereka impikan untuk dikunjungi. Suasana Bali yang selalu berlimpah dengan sinar matahari dan nyiur melambai dengan suasana tropisnya merupakan gambaran paradiso yang diindonesiakan menjadi surga. Tidak keliru jika Bali disebut juga dengan Pulau Dewata, pulau para dewa yang bertempat di surga atau kahyangan.

Please, go to Bali before you die!” adalah ekspresi yang bersifat hiperbolik tetapi enak didengar karena memiliki persajakan, bunyi /i/ pada Please, go to Bali diulangi lagi dengan bunyi /i/ pada before you die. Ekspresi ini seakan-akan mengkultuskan Bali, nama yang muncul di dunia perpelancongan pada awal abad ke-20 (sementara pada abad ke-19 yang muncul adalah Java).

Orang Australia merasa Bali sebagai bagian dari propinsi negaranya. Orang Amerika bertanya, “Apakah Indonesia dekat dengan Bali?”. Ada lagi sejumlah stereotip atau anekdot tentang Bali. Di Indonesia yang mayoritas muslim, Bali yang Hindu adalah sesuatu yang unik. Degung tidak keliru ketika menyatakan bahwa para antropolog pemula dunia berawal dengan mempelajari Bali sebagai objek kajiannya, sebelum menjadi ahli kawasan tertentu (maaf bukan lagi sebagai orientalis).

Anda boleh ke Bali tanpa harus ke Indonesia, tapi Anda harus ke Bali jika pergi ke Indonesia. Anda bisa mengatakan telah berpelancong ke Bali tanpa harus menyebut Indonesia, tapi Anda akan dianggap berbohong jika berpelancong ke Indonesia tapi tidak mampir ke Bali.

Banyak orang Indonesia sudah lupa dengan kata yang mirip dengan pelancong tapi artinya jauh berbeda: pelancung. Lancung artinya dekat dengan kata dusta atau tipu; pelancung berarti pembohong, pendusta, penipu. Tidak sama persis sebetulnya. Tapi perhatikan kutipan berikut “Sekali lancung dalam ujian, sepanjang hayat tidak dipercaya orang!” begitu kata pepatah Melayu.

Catatan: lancong, lancung, lonceng, lancang, luncang, loncing (launching) punya karakteristik yang sama? Bagaimana Wisma Bahasa?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: