Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 561627 / +62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Toleransi Antar Umat Beragama di Indonesia (2)

Ekspresi dalam Toleransi Antar-umat Beragama

Saya sudah mengobrol dengan Bapak Romo Suyatno Hadiatmaja Pr dan Bapak Kyai Abdul Muhaimin dari Forum Persaudaran Umat  Beriman (FPUB).  Apa yang mereka bicarakan tentang toleransi antar-umat beragama menarik sekali.  Menurut Bapak Romo, toleransi antar-umat beragama, ini kata-kata dari pemerintah untuk menyatakan situasi yang baik antar-umat beragama. Tetapi, Bapak Romo dan Bapak Kyai dua-duanya setuju bahwa mereka tidak tahu pasti arti kata-kata ini.  Mereka hanya  memberi apa saja ekspresi dalam toleransi antar-umat beragama.

Sekarang saya ingin berpresentasi tentang ekspresi dalam toleransi antar-umat beragama yang diperlihatkan di dalam konteks Forum Persaudara Umat Beriman.  Sebetulnya, FPUB tidak hanya tertarik pada toleransi antar-umat beragama apalagi kerukunan antar-umat beriman. Kita bisa lebih mengerti ini nanti. Sekarang, kita   melihat ekspresi – ekspresi dalam toleransi antar-umat beragama lewat pikiran, perasaan dan sikap dari orang-orang yang diikutsertakan di dalam aktivitas FPUB. Sebelum kita melihat semuanya ini, kita harus mengerti dulu bagaimana FPUB.

Forum Persaudara Umat Beriman atau FPUB, adalah kelompok yang dibuat oleh orang-orang yang mau mencegah kekerasan yang terjadi di tempat yang lain di Indonesia.  Orang-orang mempunyai wawasan dan mereka tidak mau kekerasan masuk di Yogyakarta.  Mereka mulai mendiskusikan apa yang bisa mereka lakukan untuk hal ini.  Mula-mula mereka berkumpul dan berdiskusi di gereja, dan dari gereja ke kelenteng, dan dari kelenteng ke masjid.  Siapa saja yang bisa ikutserta di dalam diskusi ini? Siapa saja yang mau bisa ikutserta di dalam diskusi ini!

Apa yang mereka diskusikan? Mereka setuju bahwa beberapa kekerasan yang berakar  disalahpahami dan ada konflik-konlfik yang berakar pada masalah-masalah sosial dan ekonomi. Tetapi, ada juga masalah karena orang-orang berpikir orang lain kurang baik dan orang-orang mulailah saling mencurigai. Kalau Bapak Romo mulai berdiskusi dengan  orang-orang, dia merasa khawatir juga dan mungkin orang lain merasa curiga juga. Tetapi, mereka tetap meneruskan aktivitas. Sesudah beberapa kali, kecurigaan secara pelan – pelan  hilang. Kalau orang-orang mendiskusikan  hal yang  sama, ini akan menciptakan saling pengertian.

FPUB  memberi hal yang penting lewat kata-kata Forum Persaudaraan Umat Beriman. Mereka mengatakan bahwa mereka pakai kata Forum karena kata ini kurang formal dibandingkan kata organisasi.   Mereka bahagia tentang status mereka: tidak ada pemimpin formal, tidak ada ketua.  Mula-mula, ini didasarkan  pikiran supaya militer tidak menangkapi mereka.  Dulu, orang yang lain mungkin pikir kelompok ini berdiskusi bagaimana menjatuhkan Presiden Soeharto. Ada waktu ketika militer datang dan mereka menjawab ini:  kami melakukan “sharing” saja, seperti ketika teman-teman bertemu dan saling berbagi saja.  Kata Persaudaraan berarti kita satu nafas.  Mereka mau mempraktekkan hubungan yang didasarkan persaudaraan yang benar.  Umat Beriman berarti semua orang yang beriman di depan Tuhan, apa pun namanya, semua sangat diterima.

Sesudah saya sedikit menjelaskan FPUB, mungkin sekarang, untuk ekspresi dalam toleransi antar-umat beragama,  saya ingin menceritakan pengalaman saya di Yogyakarta. Ada beberapa waktu ketika saya mendengar bahwa Yogyakarta adalah seperti Indonesia kecil. Ada banyak orang dari tempat-tempat lain tinggal di sini untuk belajar dan bekerja, jadi Yogyakarta identik dengan Indonesia.

Ada beberapa cerita yang ingin saya bagi.   Mungkin, beberapa cerita – cerita ini sudah terkenal tetapi saya masih ingin berbagi ini lagi.   Sesudah mengobrol dengan Bapak Romo dan Bapak Kyai, saya  bisa mengerti apa yang mereka lakukan untuk memperlihatkan tidak hanya toleransi apalagi kerukunan. Misalnya ini:

  • Di tempat Romo, orang-orang di sini, orang Katolik dan orang Islam bisa buka puasa bersama.  Orang Katolik mempersiapkan makanan dan minuman dan orang Islam datang dan merayakan bersama.
  • Ada waktu ketika mereka merespon kelaparan di lingkungannya. Mereka memintakan beras-beras dari orang-orang.  Mengapa beras? Karena kalau orang Islam memberi yang lain, orang lain pikir, ini Islamisasi. Kalau orang Kristen memberi yang lain, orang lain pikir, ini Kristenisasi.  Kalau semua memberi beras, dan orang yang menerima tidak bisa membedakan  “beras Katolik” dari “beras Islam”  dan orang-orang bisa melakukan aktivitas sebagai satu kelompok yang mau membantu orang kelaparan bersama.
  • Camping muda – mudi dan menanam pohon-pohon bersama
  • Berdemonstrasi bersama dengan cara-cara damai
  • Berdoa bersama
  • Rumah yang ada di desa, itu tempat untuk semua yang beriman
  • Pernikahan Antar-iman
  • Universitas dan sekolah, siapa pun bisa belajar
  • Hari Natal, orang Islam datang ke rumah orang Kristen /Katolik
  • Ada Hari khusus untuk orang Hindu, Budha

Menurut saya, status di Yogyakarta seperti ini karena pikiran mereka terbuka. Mereka bisa menghormati satu sama lain. Tidak ada kecurigaan, tidak ada ketakutan tetapi ada persaudaraan.  Kalau seseorang senang, orang lain senang.  Kalau orang lain susah,  dia ikut susah dan ikut menyelesaikan masalah-masalahnya. Mereka masih mengakui ada perbedaan antarkasus beragama, tetapi ada ajaran – ajaran juga yang sama dalam jiwa.  Misalnya, tidak ada agama yang akan mengajarkan kekerasan dan menyakiti orang yang lain. Semua agama atau iman mengajarkan kedamaian, cinta pada orang yang lain dan keadilan sosial.  Pada pokoknya, kita bisa melakukan kerja sama, bisa hidup dalam kerukunan dan menjawab berbagai tantangan seperti kelaparan, kekerasan dan ketidakadilan serta bersatu.

Tambahan lagi, saya pikir ini bisa karena orang-orang ini bisa mengesampingkan hal-hal yang spesifik seperti dogma dan doktrin dan bisa membuka pikiran dan hati untuk mengerti dan menghormati satu sama lain.  Orang – orang bisa mendiskusikan hal-hal keimanan dan tidak mencoba mengajak orang lain masuk agamanya. Ada penerimaan dan penghormatan untuk hal-hal yang berbeda dan masih bisa berhubungan dengan baik sekali seperti persaudaraan yang sesungguhnya.

Terus-terang, saya merasa bahagia karena situasi di Yogyakarta bagus sekali.  Yogyakarta dikenal sebagai “melting pot” dalam kebudayaan Indonesia sekaligus “the city of tolerance.” Mudah-mudahan orang Indonesia bisa mempertahankan status ini.  Mungkin kita bisa melihat apa saja yang membuat dan mendorong status ini. 

Faktor- faktor  Pendorong

  • Kondisi  keagamaan dan Kebudayaan Indonesia

Sebelum  Hindu, Budha dan Islam masuk ke Indonesia lewat perdagangan mungkin dari India, orang lokal sudah punya kepercayaan.  Awalnya orang Indonesia percaya animisme dan praktek penyembahan nenek moyang dan roh. Awalnya tugas-tugas sosial dan keagamaan masyarakat pertanian ini dikembangkan di seluruh nusantara dan secara  berangsur-angsur dibentuk sebuah kode perilaku yang menjadi dasar adat atau hukum adat. Ketika Hindu – Budha menyebar di nusantara, hal  ini dilapisi oleh kebudayaan masa kini.

Meskipun Islam menjadi agama yang utama di nusantara, ini sebetulnya karena kemenangan nominal.  Apa yang kita lihat di Indonesia sekarang  merupakan Islam yang dipengaruhi agama Hindu – Budha, adat dan animisme.  Kepercayaan yang tertua masih berlangsung lama, misalnya di Jawa, ada ratuan tempat yang keramat di mana kekuasaan keagamaan dipusatkan. Orang-orang yang melakukan meditasi pergi ke tempat-tempat ini dan di makam orang yang suci, walaupun ada aturan berlawanan dengan menyembah orang yang suci oleh Islam. Tambahan lagi, kepercayaan Kristen juga bergabung dengan kepercayaan keagamaan dan kebiasaan yang asli di Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai negara besar ketiga di dunia yang demokratis sekaligus negara besar yang paling banyak orang Islamnya.  Bagaimana Islam di Indonesia?  Saya pikir kondisi Islam di Indonesia, ini adalah salah satu faktor pendorong untuk toleransi antar-umat beragama.  Islam di Indonesia unik.  Di samping Islam di Indonesia mendasarkan kebudayaan Indonesia dan Hindu – Budha, ini mempunyai pengaruh atas dinamika sosial dan politik.  Di Indonesia, kebanyakan orang  Islam termasuk dalam organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).  Anggota-anggotanya yang bergabung jumlahnya hampir 60 juta orang. Lewat pendorong dari Asia Foundation, NU dan Muhamaddiyah tersusun dan terlaksanakan program-program dan proyek-proyek, antara lain menguatkan kepemimpinan yang bagus, memberdayakan perempuan, mengembangkan masyarakat, membentuk kembali pendidikan,  dan memajukan toleransi antar-umat beragama.  Mereka membantu proses demokratisasi lewat pendidikan, pemilu dan membantu menjaga pemilihan yang bersih dan damai.   Baru-baru ini,  Islam di sini punya peran atau pengaruh untuk penggulingan sifat kepemimpinan otoriter dan membangun Indonesia yang demokratis dan pluralistik.

Ada ungkapan Jawa yang tertua, “Bhinneka Tunggal Ika.” Bila diterjemahkan kurang lebih berarti, “they are many, they are one,” atau “Unity in Diversity,” atau “Berbeda-beda tapi satu.” Walaupun ada beberapa kritik terhadap Pancasila,  saya pikir ini salah satu faktor pendorong yang bisa mendorong orang-orang menjadi lebih toleran. Bersambung. (oleh: Dulce Amor Fortunado, Diplomat dari Filiphina, belajar di Wisma Bahasa 2005)

One thought on “Toleransi Antar Umat Beragama di Indonesia (2)”

  1. Terima kasih atas informasinya,memang kita sesama manusia dan mahluk allah swt harus saling toleransi dan saling nenghargai satu sama lain,jangan kita saling bermusuhan,dan jangan mudah terhasut.apa tanggapan pemerintah tentang toleransi antar umat beragama ini??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.