Jl. Affandi, Gang Bromo #15A, Mrican, Yogyakarta 55281, Indonesia

+62 274 520341 info@wisma-bahasa.com

Loh, ‘Berprestasi atau Tidak, Tergantung pada Ibu’, yang Benar Aja

Jangan begitu saja menarik kesimpulan tentang sesuatu persoalan dan penyebabnya sebelum dipandang dari beberapa segi. Kalau langsung mengatakan bahwa `berprestasi atau tidak tergantung Ibu`, ini jauh dari kenyataan. Kenapa Ibu saja? Benar atau tidak, kalau saya mengatakan bahwa anak-anak juga dipengaruhi oleh lingkungannya? Atau mungkin internet, TV, teman-teman, budaya, sekolah atau musik pun bisa main peran dalam mempengaruhi anak-anak atau kaum remaja dewasa ini. Yang tersebut di atas adalah bagian kecil yang muncul di atas permukaan dalam pengaruh terhadap anak-anak.

Apakah itu kenyataan atau tidak kalau saya menyatakan,”tidak ada dua anak pun di seluruh dunia yang seratus persen sama?” Memang tidak ada yang seratus persen sama. Dengan demikian, reaksi dari masing-masing anak terhadap suatu pendekatan tidak akan selalu sama. Oleh karena itu orang tua, baik Ibu maupun Bapak harus mencari cara yang paling cocok untuk mengasuh anaknya. Saya sendiri tidak setuju bahwa prestasi bisa `dibentuk` atau anak-anak berprestasi bisa `dicetak atau bahwa anak-anak harus `didorong`. Menurut pendapat saya, anak-anak seharusnya dibina, dididik, dijaga dan diasuh sampai mereka siap untuk meraih prestasi yang sesuai dengan kemampuan dan kehendaknya sendiri.

Kalau itu dikatakan bahwa guru-guru harus mengasuh anak-anak dengan cara yang sama dengan cara yang dipakai oleh Ibunya di rumah, bagaimana mengkoordinir itu? Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, setiap anak berbeda walaupun mungkin sedikit saja, masih berbeda, oleh karena itu perlu pengasuhan yang berbeda. Dalam satu kelas biasanya ada kira-kira 30 murid, jadi si guru harus memilih cara yang mana untuk mengasuh masing-masing anak? Atau mungkin lebih baik kalau ada Bapak yang bisa masuk dalam gambar ini. Mungkin Bapak dan Ibu harus kerja sama dan keduanya mendekati guru anak mereka untuk mencari keterangan atas progres anak mereka. Mungkin lebih cocok kalau baik Bapak maupun Ibu duduk sama anak mereka sesudah sekolah untuk membicarakan masalah masalah, kalau ada. Mungkin sebaiknya Ibu dan Bapak saling membantu dengan membacakan cerita kepada anaknya setiap malam secara bergilir. Menurut pendapat saya Bapak dan Ibu harus memperlihatkan ketertarikannya dalam hal-hal yang terjadi dalam hidup anaknya, menanyakan siapa nama teman kamu, kamu ke mana saja hari ini, bagaimana kondisi di sekolah sekarang dan pertyanyaan seperti itu. Kalau orang tua menyediakan waktu untuk anak, asti anak akan merasa lebih senang.

Yang saya tulis diatas merupakan usulan saja. Saya masih berpendapat bahwa itu tanggung jawab semua orang tua untuk menemukan gaya sendiri. Jangan lupa bahwa kadang-kadang ada hal-hal tertentu yang di luar kontrol orang tua, jangan menyalahkan diri karena anak anda tidak mau ikut jalan yang diharapkan. Lebih baik terus mendukung anak anda dalam pilihannya. Bahkan kalau yang dipilih masih dianggap tabo anda harus terus siap dengan hati nurani untuk membantu kalau mereka jatuh.

Sebagai kesimpulan dari komentar saya, kalau anda bisa menemukan “kunci” atau “jawaban” atas cara yang selalu berhasil dalam pengasuhan sesorang anak supaya menjadi anak berprestasi, silakan coba untuk menjual itu. Memang akan ada orang tua yang membeli gagasan anda tetapi akan langsung dibuang pada saat mereka mereaslisasi bahwa memang tidak ada satu KUNCI. (oleh Alm/RIP. Sergio Amrien** – Angkatan Darat Australia)

** Tulisan ini sudah dipresentasikan oleh penulis beberapa tahun yang lalu ketika penulis belajar bahasa Indonesia di Wisma Bahasa.

One thought on “Loh, ‘Berprestasi atau Tidak, Tergantung pada Ibu’, yang Benar Aja”

  1. Bagaimana jika yang anak-anak pilih adalah hal yang terlarang. Baik secara moral atau mungkin agama. Bagaimana sudut pandang orang tua terhadap hal tersebut?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: